Latest Entries »

**NJUAH – NJUAH MO BANTA KARINA **

Sabtu, 14 Februari 2009
Jejak Hindu-Buddha dalam kepercayaan dan tradisi orang Pakpak
Sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen di tanah Pakpak, masyarakatnya meyakini bahwa alam raya ini diatur oleh Tritunggal Daya Adikodrati yang terdiri dari Batara
Guru, Tunggul Ni Kuta, dan Boraspati Ni Tanoh (Siahaan dkk.,1977/1978:62). Nama-nama itu antara lain terwujud lewat mantra ketika diadakan upacara menuntung tulan (pembakaran tulang-tulang leluhur). Sebelum api disulut oleh salah seorang Kula-kula/Puang dia mengucapkan kata-kata sebagai berikut (Berutu, 2007:32):
“O…pung…! Ko Batara Guru, Beraspati ni tanah, Tunggul ni kuta, … .”
Nama Boraspati dan Batara Guru jelas merupakan adopsi dari bahasa Sanskerta yang disesuaikan dengan pelafalan setempat. Kata Boraspati merupakan adopsi dari kata Wrhaspati yang berarti nama/sebutan purohita (utama/pertama) bagi para dewa. Jadi kata ini merujuk pada penyebutan bagi dewa tertinggi atau yang dianggap utama/penting yang dalam konteks ini (boraspati ni tanoh) dapat diartikan sebagai dewa utama yang berkuasa di tanah/bumi.
Penyebutan Batara
Guru dalam mantra sebelum api dinyalakan dalam upacara menuntung tulan jelas merupakan adopsi dari kepercayaan Hindu yang berkenaan dengan salah satu perwujudan dari Dewa Siwa yakni sebagai Agastya (Batara Guru). Menurut Krom (1920:92 dalam Poerbatjaraka,1992:110) wujud Siwa yang paling populer di Nusantara adalah wujud yang yang memakai nama Bhatara Guru (Guru Dewata). Sosok utama dengan nama ini juga banyak ditemukan di tempat-tempat lain di Nusantara. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa tokoh ini adalah dewa asli Indonesia yang konsepnya kemudian tercampur seiring dengan masuknya agama Hindu melalui perwujudan Siwa sebagai Mahayogi. Pendapat Krom tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Kern (1917:21 dalam Poerbatjaraka 1992:110). Menurut Kern bukti nyata tentang popularitas agama Hindu Siwa adalah dengan tersebarnya nama Bhatara Guru sebagai dewa utama di Nusantara. Demikian halnya dengan Wilken (1912:244 dalam Poerbatjaraka 1992:110) yang menyatakan bahwa Soripada dan Batara Guru adalah dewa-dewa pribumi yang semula mempunyai nama pribumi asli yang kemudian berubah dengan menggunakan bahasa Sanskerta.
Kata adopsi lain yang juga tampil dalam mantra orang-orang Pakpak adalah dalam mantra menolak mimpi buruk (Siahaan dkk.,1977/1978:150):
Hung, pagari mo kita
Da hompungku
Hompung ni pangir …
Kata Hung dalam mantra penolak mimpi buruk pada tradisi Pakpak di atas adalah pelafalan lain dari kata Hum yang sering digunakan dalam mantra-mantra Hindu maupun Buddha. Dalam kitab suci Hindu yakni Weda, kata Hum adalah mantra bagi Agni, sang dewa api, sehingga mantra ini digunakan saat dilakukan upacara persembahan kepada api suci. Selain itu juga digunakan untuk memanggil atau membangkitkan api sehingga nyalanya lebih kuat. Hum juga merupakan representasi dari jiwa dalam diri mahluk, sekaligus wujud keberadaan Dewa di dunia. Melalui pelafalannya manusia berharap sifat-sifat kedewaan merasuk ke dirinya sekaligus memberikan kesadaran jiwa akan keberadaanNya. Di samping sebagai mantra yang ditujukan pada Agni sang dewa api, Hum juga merupakan mantra bagi Dewa Siwa serta Chandika (perwujudan lain dari Kali sang dewi maut). Pelafalannya bertujuan untuk menghancurkan hal-hal negatif sekaligus menciptakan kekuatan dan kemauan yang besar. Sedangkan dalam agama Buddha Hum merupakan salah satu kata dalam mantra bagi Boddhisatva Avalokitesvara yang teksnya sebagai berikut: Om Mani Padme Hum. Kata ini juga dipakai bagi dewa lainnya dalam Buddhisme yakni bagi Jambala Putih yang teksnya sebagai berikut: Om Padma Corda Arya Jambhala Setaya Hum Phet.
Mantra-mantra sebagai salah satu wujud budaya yang intangible dalam kebudayaan Pakpak biasanya dihadirkan saat upacara-upacara adat. Masyarakat Pakpak pada umumnya mengenal dua bentuk kerja (horja dalam bahasa Batak Toba atau upacara/ritus dalam bahasa Indonesia) yakni, kerja baik dan kerja njahat. Kerja baik adalah segala jenis upacara yang berkaitan dengan rasa sukacita atau gembira seperti, keberhasilan panen, pernikahan, dan kelahiran anak. Sebaliknya Kerja Njahat adalah segala jenis upacara yang berkaitan dengan rasa dukacita atau sedih seperti kematian (Berutu,2007:8).
Hal-hal yang berhubungan dengan duka cita, kematian, mangokal tulan (membongkar tulang-belulang dari kuburan dan menempatkannya di kubur sekunder), dikategorikan sebagai kerja njahat. Upacara kematian dapat dibagi menjadi 4 yakni (Siahaan dkk.,1977/1978:92–94):
1. Mati
Bayi
Anak yang baru lahir yang belum bergigi jika meninggal dikebumikan dekat rumah tanpa diketahui oleh orang lain, karena takut diambil orang lain, dijadikan guna-gunaan.
1. Mati
Dewasa
Orang yang meninggal dalam usia muda (dewasa) dikuburkan dimana saja dan termasuk mate
ntalpok (mati belum berketurunan)
1. Mati
Ntua
Seorang yang meninggal dan telah berkeluarga dikebumikan di kuburan umum.
2. Mati
Cayur
Tua
Bagi orang yang meninggal tapi sudah mempunyai cucu, biasanya diadakan kerja
njahat, sewaktu mayatnya masih di rumah. Pembiayaan umumnya ditanggung oleh keluarga/ahli waris yang meninggal itu sendiri karena almarhum enggo
mencari (hasil pencarian/kerja mendiang selama hidupnya). Jadi biaya diambil dari harta yang ditinggalkan oleh mendiang.
Salah satu bagian penting dalam ritus mati cayur tua adalah Menuntung Tulan (upacara pembakaran tulang jenazah). Upacara ini disebut juga Penahangken (meringankan), sebab tujuan dilaksanakannya adalah untuk meringankan beban roh mendiang (Berutu, 2007:30).
Upacara ini dilaksanakan bila keluarga mendiang mendapat mimpi (nipi) yang seolah menggambarkan mendiang di alam kuburnya merasakan beban yang berat, sesak, atau sempit. Upacara ini harus dilaksanakan, bila tidak maka jiwa/roh mendiang akan mengakibatkan sakit kepala pada keturunannya (Berutu,2007:30).
Peralatan yang dibutuhkan dalam upacara ini antara lain kayu bakar, batang pohon pisang (sitabar) yang dibentuk menyerupai manusia serta diberi pakaian (persilihi), kain putih pembungkus tulang-tulang mendiang, sumpit/kembal wadah bagi tulang yang telah dibungkus, dan sejumlah hewan kurban. Setelah segala persiapan selesai, maka pihak kerabat (Kula-kula, Berru, dan Sinina) berangkat ke pekuburan. Biasanya dilakukan pada waktu pagi hari, agar roh/jiwa bangkit sebagaimana matahari terbit, juga agar sanak kerabatnya nasibnya menjadi lebih baik di kemudian hari (Berutu,2007:31).
Setelah api padam, secara hati-hati keluarga mengambil abu dan sisa-sisa tulang yang telah dibakar. Abu dan sisa-sia tulang itu kemudian dibungkus dengan kain putih lalu dibawa ke tempat pertulanen (lesung batu). Namun, ada kalanya abu dan sisa-sisa tulang tersebut dibawa dan digantung di rumah sukut (Berutu,2007:32).
Upacara sejenis juga dilakukan oleh masyarakat Karo setidaknya hingga awal abad ke-20 yang lalu. Jenis upacara ini hingga kini masih dilakukan oleh masyarakat Bali, yang disebut sebagai ngaben. Beberapa unsur yang mirip dengan upacara pembakaran jenazah di Bali (Ngaben) dengan upacara pembakaran tulang-tulang jenazah di Pakpak (Menuntung Tulan) selain proses pembakarannya sendiri adalah pembuatan boneka manusia dari batang pisang yang disebut sebagai persilihi. Di Bali boneka/patung yang melambangkan sosok mendiang yang diaben disebut sebagai pratima.
Selain dalam upacara adat, pengaruh Hindu-Buddha (India) juga hadir dalam sistem waktunya. Sebelum kedatangan pengaruh Islam dan Kristen sistem kala yang dikenal oleh masyarakat Pakpak adalah sebagai berikut. Berikut adalah nama-nama hari dalam 1 bulan (Siahaan dkk.,1977/1978:68):
1. Antia 16. Suma Teppik
2. Suma 17. Anggara Kolom
3. Anggara 18. Budhaha Kolom
4. Budhaha/Muda 19. Beraspati Kolom
5. Beraspati 20. Cukerra Genep Duapuluh
6. Cukerra 21. Belah Turun
7. Belah
Naik 22. Adintia Nangga
8. Sumasibah 23. Sumanti Mante
9. Anggara
Sipuluh 24. Anggara Bulan Mate
10. Budhaha
Mangadep 25. Budha Selpu
11. Antia
Naik 26. Beraspatigok
12. Beraspati Tangkep 27. Cukerra Duduk
13. Cukerra Purnama 28. Samisara Mate Bulan
14. Belah Purnama 29. Dalan Bulan
15. Tula 30. Kurung
Bandingkan penyebutan nama 7 hari pertama dalam 1 bulan pada tradisi Pakpak di atas dengan penyebutan nama hari dalam siklus 7 hari (saptawara) pada prasasti-prasasti Jawa Kuna yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India (Hindu-Buddha) sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
No Indonesia Pakpak Jawa Kuna
1 Ahad/Minggu Antia Aditya
2 Senin Suma Soma
3 Selasa Anggara Anggara
4 Rabu Budhaha/Muda Buddha
5 Kamis Beraspati Wrhaspati
6 Jumat Cukerra Çukra
7 Sabtu Belah
Naik Çanaiçcara
Sumber Pakpak: Siahaan dkk.,1977/1978:68; Jawa Kuna: Zoetmulder,1985:245
Berbeda dibandingkan nama-nama hari dalam tradisi Pakpak yang dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha, penyebutan nama-nama bulan mereka lebih bersifat pribumi:
Bulan Pakpak Jawa (tani) Jawa Kuna Sanskerta Toba Karo
1 Pekesada Kasa Cetra Caitra Sitora Citera
2 Pekedua Karwa Weçakha Vaiçakha Sisaha Sisaka
3 Peketellu Katlu Jyestha Jestha Sibista Sidista
4 Pekeempat Kapat Asādha Asādha Sisanti Sitama
5 Pekelima Kalima Srāwana Srāvana Sisorbaba Siresba
6 Pekeenam Kanem Bhādra(-pada/wada) Bhādra(-pada) Sibadora Sibadera
7 Pekepitu Kapitu Asuji/ Aswayuja Asvina/ Asvayuja Sisudija Sisudi
8 Pekewaluh Kawwalu Kārttika Kārttika Siaji mortiha/mertika Sisakadi
9 Pekesiwah Kasanga Margasirsa Mārgasirsa/ Agrahāyana Sianggara Aji Simerga
10 Pekesipuluh Kasapuluh Posya Pausa Sipusija Sipusija
11 Pekesibellas Hapit (lemah) Magha Māgha sipalaguna Siguwa
12 Pekeduabellas Hapit (kayu) Phalguna Phālguna Siraja urip Sikurung lamadu
Sumber Pakpak: Siahaan dkk.,1977/1978:68; Jawa Kuna: Zoetmulder,1985:245; Toba & Karo: Voorhoeve,1972:495
Sebagaimana tampak pada tabel di atas, nama-nama bulan dalam tradisi Pakpak jelas merupakan tradisi setempat yang didasarkan pada perhitungan kaum tani sebagaimana juga dikenal di Jawa hingga kini. Bedanya, di Jawa dahulu juga dikenal nama-nama bulan yang merupakan adopsi dari bahasa Sanskerta, sebagaimana puak-puak lain di sekitar Pakpak seperti Toba dan Karo pernah mengenalnya.
Data lain yang juga dapat dijadikan fakta adanya pengaruh India (Hindu-Buddha) dalam kebudayaan Pakpak adalah pada wujud budaya yang tangible, antara lain dalam wujud patung.
Di beberapa daerah di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat hingga kini masih dapat dijumpai rumah-rumah tradisional Pakpak. Salah satu bentuk rumah tradisional mereka dikenal sebagai rumah jojong. Rumah jojong berarti rumah yang memiliki menara, dibentuk dari 2 kata, yakni rumah dan jojong yang berarti menara. Jojong ditempatkan di tengah-tengah bubungan atap yang melengkung (denggal). Hanya raja dan keluarganya yang menempati rumah jenis ini (Siahaan dkk.,1977/1978:121). Salah satu hal menarik dari rumah jojong adalah keberadaan bentuk kepala manusia di bagian atas pintu masuk yang dalam istilah seni hias Toba disebut sebagai jenggar.
Jenggar yang terdapat di rumah jojong milik keluarga Raja Johan Berutu di Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitelu Tali Urang Julu ini berbentuk kepala manusia bermahkota dengan hiasan menyerupai sulur-suluran di sisi kiri dan kanannya. Pengamatan lebih lanjut terhadap jenggar pada rumah tradisional Pakpak ini menunjukkan adanya kemiripan dengan bagian kepala arca perunggu Wisnu berbahan perunggu dari Tanjore, negara bagian Tamil Nadu, India; serta bagian kepala arca perunggu Siwa Nataraja juga dari Tanjore, negara bagian Tamil Nadu, India. Bagian dari jenggar yang mirip dengan arca Wisnu dari Tanjore adalah bentuk mahkotanya yang dalam ikonografi disebut sebagai kirita-mukuta; sedangkan bagian dari jenggar yang mirip dengan arca Siwa Nataraja adalah bentuk yang menyerupai sulur-suluran di sisi kiri dan kanan jenggar yang mirip dengan bagian rambut arca Siwa Nataraja yang digambarkan terurai di sisi kiri dan kanan kepalanya. Kedua arca pembanding dari Tanjore tersebut diperkirakan dibuat pada abad ke-11 M, masa kekuasaan Dinasti Chola di India selatan.
Arca-arca berlanggam Chola ternyata ditemukan juga di daerah lain di Sumatera Utara, antara lain adalah arca batu Buddha yang ditemukan di situs Kota Cina, Medan; arca batu Wisnu dan Lakshmi juga dari situs Kota Cina, Medan; dan arca perunggu Lokanatha dari Gunung Tua, Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Berdasarkan contoh-contoh pembanding itu, tentunya bentuk jenggar dari rumah jojong di Pakpak Bharat itu mengambil prototipenya dari arca-arca berlanggam Chola di atas.
Wujud tri matra lain yang juga merupakan hasil adopsi dari India adalah patung angsa yang banyak ditemukan di kompleks-kompleks mejan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pakpak Bharat. Salah satu di antaranya adalah patung angsa yang terdapat di kompleks mejan Bancin di Desa Penanggalan Binanga Boang, tepatnya 55 m arah barat dari Sungai Ordi yang secara astronomis berada pada 02° 31′ 29,5” LU dan 098° 19′ 55” BT. Patung keempat berbentuk angsa, dengan panjang: 30 cm, lebar: 25 cm, tinggi: 53 cm. Patung ini digambarkan dalam posisi berdiri pada suatu batur, kedua sayap terkatup rapat pada badannya. Bagian leher hingga kepala telah hilang. Patung ini berfungsi sebagai tutup satu batu pertulanen (wadah abu/sisa-sisa jenazah) berbentuk silinder yang berada tepat di bawahnya.
Angsa bukanlah binatang endemik di Kepulauan Nusantara, populasinya yang asli tersebar di daerah subtropis bagian utara dan selatan. Spesies angsa yang ditemukan di bumi bagian utara mempunyai bulu menyeluruh berwarna putih, kontras dengan spesies angsa di bumi bagian selatan yang memiliki bulu berwarna hitam dan putih. Binatang ini secara zoologi termasuk dalam filum Chordata, kelas Aves, ordo Anseriformes, dan familia Anatidae yang terdiri dari 6 spesies yakni: Cygnus olor, daerah sebarannya di Eurasia; Cygnus atratus (angsa hitam), daerah sebarannya di Australia; Cygnus melancoryphus, daerah sebarannya di Amerika Selatan; Cygnus cygnus, daerah sebarannya di sub-artik Eropa dan Asia; Cygnus buccinator, daerah sebarannya di Amerika Utara; dan Cygnus columbianus, yang daerah sebarannya di Eropa dan Amerika Utara. Dari keenam spesies angsa tersebut dua di antaranya yakni Cygnus olor dan Cygnus cygnus hidup di benua Asia, namun tidak ada di Asia Tenggara daratan maupun kepulauan. Hal ini berarti angsa diperkenalkan atau dibawa ke Kepulauan Nusantara seiring terjadinya kontak budaya antara penduduk pribumi Nusantara dengan para pendatang dari daratan Asia seperti Cina atau India.
Dikenalnya angsa oleh orang-orang Pakpak di masa lalu sebagaimana terwujud dalam bentuk patung adalah hasil kontak mereka dengan para pendatang dari India yang beragama Hindu atau Buddha. Dalam ikonografi Hindu angsa adalah wahana (tunggangan) dari salah satu Trimurti yakni Brahma, Sang Pencipta alam semesta sedangkan dalam ikonografi Buddha angsa adalah tunggangan Saraswati, Sang Dewi ilmu pengetahuan. Keberadaan patung angsa sebagai tutup bagi wadah abu dan sisa-sisa tulang jenazah (batu pertulanen) dapat dikaitkan dengan konsep dalam Hindu bahwa Brahma adalah Sang Pencipta. Angsa sebagai wahana Brahma dapat dianggap sebagai simbol pelepasan mendiang -yang sisa-sisa jasadnya tersimpan di batu pertulanen- menuju Sang Pencipta.

Proposal Pembentukan Organisasi Persatuan Pemuda-Pemudi Pakpak

( PEDEMPAK )

Proposal Diajukan Kepada :

Tokoh Adat Pakpak, Tokoh Organisasi Pakpak, Pemuka Agama, Tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat Pakpak Segenap Masyarakat Pakpak yang Mendukung Program ini

Persatuan Pemuda Pemudi Pakpak ( PEDEMPAK )

Medan

2010

Sejarah  Terbentuknya Persatuan Pemuda Pemudi Pakpak

( PEDEMPAK )

Pendahuluan

Dokumen ini merupakan proposal yang diajukan kepada seluruh jaringan masyarakat pakpak  meliputi tokoh adat, pemuka agama, tokoh lembaga swadaya masyarakat pakpak, organisasi kemahasiswaan pakpak organisasi pemuda pakpak yang lain, media massa, serta tokoh-tokoh organisasi pakpak di seluruh Indonesia. kemudian proposal ini diajukan berdasarkan hasil pertemuan dengan para pemuda pemudi pakpak silima suak yang diadakan pada tanggal 12 maret 2010. Oleh karena itu proposal ini akan menjadi salah satu bahan penting untuk diskusi dalam pertemuan bulanan mendatang serta persiapan untuk MUBES ( musyawarah besar ) pembentukan serta pengukuhan kepengurusan PEDEMPAK (  persatuan pemuda-pemudi pakpak ).

Proposal ini menjelaskan latar belakang dibentuknya Organisasi Persatuan Pemuda-Pemudi Pakpak di Indonesia serta program dalam rangka pengukuhan kepengurusan  PEDEMPAK (Persatuan Pemuda-Pemudi Pakpak ). Fokus yang diambil,  Mengajak seluruh anggota dan pemuda-pemudi pakpak yang memiliki ketertarikan pada program yang akan diadakan serta dapat memberikan sumbangsih dan kontribusi dalam sebuah organisasi yang terintegrasi melalui PEDEMPAK ( Persatuan Pemuda-pemudi Pakpak ), yang bersifat holistic bukan persial dan sektoral.

1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

Bahwa sesungguhnya perjuangan bangsa Indonesia adalah mengisi kemerdekaan, maka menjadi kewajiban generasi muda terutama pemuda-pemudi Pakpak untuk berperan aktif dalam rangka mengisi kemerdekaan tersebut, yaitu terwujudnya masyarakat Pakpak yang adil, nduma dan makmur yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Bahwa dalam proses penumbuhan dan pengembangan bangsanya khususnya etnis suku Pakpak sebagai pembawa dan penerus nilai moral bangsa Indonesia, maka peran dari pemuda pemudi pakpak adalah berperan aktif dalam setiap sisi kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Seiring dengan mengglobalnya isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM), muncul tuntutan

untuk melakukan advokasi kelompok atau komunitas-komunitas etnik yang mengalami problem marginalisasi baik oleh kebijakan negara maupun oleh kelompok tertentu dalam masyarakat (mayoritas). Di Indonesia khususnya etnis pakpak, demokratisasi telah mendorong bertumbuhnya organisasi lokal di seluruh daerah yang membawa isu-isu HAM yang menggunakan metode advokasi sebagai aktivitas utamanya. Serta dapat menunjang perkembangan  kemajuan kebudayaan, pendidikan, perekonomian serta pengabdian kepada masyarakat Pakpak khususnya.

Dalam konteks respons pemuda pemudi Pakpak terhadap isu-isu di atas,maka untuk itu kemunculan organisasi ini merupakan fenomena yang perlu mendapatkan dukungan penuh dari elemen – elemen lainnya khususnya pemuda pemudi pakpak serta masyarkat dan pemerintah yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan organisasi ini. Dari sini tampaklah adanya kebutuhan untuk lebih mengkonsolidasikan isu yang diadvokasi pada level yang lebih luas, baik dalam konteks ingatan publik tentang isu tersebut dan terutama dalam konteks pembuatan kebijakan publik yang dilakukan oleh pemerintah, serta penerapannya dilingkungan masyarakat Pakpak itu sendiri.

Menyadari bahwa tujuan ini hanya akan tercapai atas taufik dan hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa disertai usaha kerja sama yang sungguh-sungguh, terencana, teratur dan penuh kebijaksanaan.

Maka dengan ini, kehadiran segenap pemuda-pemudi Pakpak  akan semakin dapat dirasakan  khususnya masyarakat Pakpak itu sendiri. Maka dengan itu pemuda-pemudi Pakpak menghimpun diri dalam kebersamaan dan kekeluargaan yang disingkat dengan PEDEMPAK     (Persatuan Pemuda-Pemudi Pakpak )

Sebagai bagian dari masyarakat, pemuda merupakan inovator, yang sangat potensial didalam berbagai macam aktivitas, dalam lingkup pribadi maupun dalam kelompok. Dengan dibentuknya fasilitas yang memungkinkan interaksi antar sesama pemuda, akan tumbuhlah sumberdaya serta kreativitas. Sumberdaya tersebut haruslah dapat dimanfaatkan, sehingga kegiatan yang positif dan produktif dapat diperoleh.Oleh karena itu potensi-potensi tersebut harus di explorasi secara maksimal.

Pernyataan ini tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada lingkungan pemuda pemudi pakpak yang berada di seluruh Indonesia. Selama ini pemuda kurang berminat ikut aktif dalam organisasi kepemudaan  yang telah dibentuk sebelumnya.

Keadaan ini mungkin disebabkan dari kurangnya kesadaran dari para Pemuda-Pemiudi Pakpak itu sendiri untuk ikut berperan aktif dalam rangka pengembangan dan pemberdayan potensi  yang ada pada pemuda itu sendiri

Oleh sebab itu dibentuklah organisasi pemuda ini, dengan harapan dapat membantu kegiatan-kegiatan serta pengenalan para anggota dan pemuda pemudi pakpak sehingga terjadi regenarasi berikutnya yang terhindar dari krisis identitas, moral dan kepercayaan diri untuk memajukan suku Pakpak itu sendiri.

2 . TUJUAN

Tujuan utama dari organisasi ini adalah untuk memepersatukan seluruh pemuada-pemudi pakpak sebagai wujud nyata kepedulian pemuda terhadap kesejahteraan bagi masyarakat pakpak khususnya

Secara umum, program aktivitas ini bertujuan:

  • Menjalin kerjasama antara pemuda-pemudi Pakpak untuk mewujudkan  perkembangan masyarakat Pakpak yang baik adil dan makmur
  • Mewujudkan transpormasi sosial pemuda-pemudi Pakpak menuju tatanan yang demokratis
  • Memantapkan keberadaan PEDEMPAK sebagai organisasi pemuda-pemudi Pakpak yang bersifat semi otonom dan independent
  • Meningkatkan semangat partisipasi pemuda-pemudi Pakpak dalam pembangunan serta pengawasannya khususnya menggali dan mengembangkan nilai-nilai moral budaya pakpak
  • Mewujudkan PEDEMPAK sebagai organisasi kepemudaan yang tanggap terhadap fungsinya serta mampu meningkatkan pemantapan perwujudan yang dilandasi oleh nilai-nilai budaya Pancasila khususnya nilai-nilai budaya Pakpak itu sendiri.
  • Menumbuhkan kesadaran akan peran, fungsi, dan posisi pemuda-pemudi Pakpak.
  • Memberikan pembekalan informasi terhadap semua elemen-elemen masyarakat khsusnya masyarakat Pakpak
  • Menggali serta mengembangkan potensi-potensi yang ada pada pemuda-pemudi pakpak khususnya dan masyarakat pakpak umumnya.

Output

  • Meningkatnya kemampuan analisa sosial para pemuda-pemudi pakpak di era globalisasi serta mampu memberikan kontribusi dalam pembangunan.
  • Pemuda-pemudi pakpak mampu bersaing dengan pemuda-pemudi dari suku lain di Indonesia.
  • Meningkatnya semangat dan partisipasi pemuda-pemudi pakpak dalam pembangunan serta implementasi otonomi daerah, khususnya menggali dan mengembangkan nilai-nilai budaya pakpak.
  • Memberikan pemahaman akan hakekat dan fungsi pemuda-pemudi dalam mempertahankan eksistensi etnis pakpak di tengah-tengah keragaman suku bangsa di Indonesia.
  • Terjalinnya hubungan kerja sama dengan berbagai lingkungan yang potensial seperti budayawan,pemuka agama, tokoh adat, tokoh-tokoh lembaga swadaya masyarakat, media massa dan sebagainya yang tidak bertentangan dengan AD/ART PEDEMPAK (pemuda pemudi pakpak).
  • Wujud nyata kepedulian para pemuda yang berada di perantauan kepada kampung halaman
  • Menjalin tali silaturahmi dan kerjasama antar anggota

3. VISI DAN MISI.

VISI PEDEMPAK

Visi PEDEMPAK  adalah terwujudnya  suatu tatanan sosial masyarakat Pakpak yang adil dan demokratis demi meningkatkan pemahaman terhadap nilai- nilai budaya Pakpak yang universal demi terciptanya Pakpak Yang maju dan sejahtera.

MISI DAN NILAI DASAR PEDEMPAK

ü      PEDEMPAK  adalah  jaringan pejuang Etnis suku Pakpak yang independent.

ü      PEDEMPAK  percaya  gerakan pemuda harus berkembang menjadi gerakan sosial yang mengutamakan solidariatas aksi aksi konfrontatif yang kreatif dan tanpa kekerasan, demi kemajuan suku Pakpak

ü      PEDEMPAK  menjunjung tinggi nilai- nilai budaya  demi memantapkan semangat kebersamaan dengan masyarakat dan  pemuda Pakpak dalam meningkatkan kepeloporan dan menumbuhkan etos kerja yang produktif bagi pembangunan bangsa khususnya suku Pakpak.

4. ORGANIZING COMMITTE

Komposisi susunan Kepanitiaan Organisasi  PEDEMPAK (Persatuan Pemuda-Pemudi Pakpak

Penasehat         : Bpk. R Maibang

Ketua               : Adi Syahputra Padang

Wakil               : Evan Blaise Bancin, SE.

Sekertaris         :

Koordinator     :  Ermida Bancin

Anggota           : Edy Berutu

Bendahara        :

Koordinator     : Dewinta Banurea

Anggota           : Jannah Limbong

Infokom           : Jitu  Solin

SIE Humas :

Koordinator Pakpak Bharat      : Sumantri Bancin, SE. Ak. MM

Koordinator Medan                  : Jhon Fredy Bancin

Anggota                                   :  –       Andrye Ashari Padang

–               Anto sagala

–               Bettan k Padang

–               Frengky Anakampun

–               Ramadhan Padang

5. PROGRAM PRIORITAS

Program prioritas utama Persatuan Pemuda-Pemudi Pakpak ( PEDEMPAK), adalah :

A . Merumuskan Pedoman-pedoman atau Prinsip dasar sebagai orientasi dalam       menentukan pengambilan keputusan dan kebijakan dalam proses pembangunan Budaya Pakpak itu sendiri.

B. Mengadakan iternalisasi, yaitu menganalisis proses pembangunan dibidang pendidikan dan kebudayaan.

C. Peningkatan pengawasan perkembangan serta pencapaian mutu budaya Pakpak demi mengangkat harkat dan martabat suku Pakpak  kearah yang lebih baik.

D. Meningkatkan hubungan dan komunikasi dengan kelompok-kelompok masyrakat Pakpak  demi menjaga dan melestarikan sejarah dan budaya Pakpak

Area program ditikberatkan pada aktivitas-aktivitas yang bersifat sosial, yang mendorong kemajuan masyarakat Pakpak di daerah maupun diluar daerah serta mempererat persatuan anggota.

Berikut ini program dari organisasi Persatuan Pemuda-Pemudi Pakpak ( PEDEMPAK ) yang bisa berubah sesuai kondisi :

5.1 Melakukan Pertemuan Rutin Bulanan

Didalam program ini anggota diharapkan  mampu memberikan usulan-usulannya mengenai pengembangan organisasi, perencanaan program, serta menyebarkan informasi mengenai program yang akan dilaksanakan.

5.2 Kegiatan Bakti Sosial

Organisasi akan :

  • Mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menyiapkan strategi serta langkah-langkah yang dapat dilaksanakan demi mendorong kemajuan etnis suku Pakpak siLima Suak.
  • Mendorong anggota untuk berperan aktif didalam program ini.
  • Mengelola Sumberdaya yang didapatkan serta menyalurkannya

5.2 Pembiayaan Program

Untuk menjalankan program-program ini, mutlak diperlukan rancangan pembiayaan. Dari mana sumber-sumber pembiayaan potensial diharapkan bisa diperoleh, dan untuk pos-pos pembiayaan apa saja dana tersebut dikeluarkan.

5.3 Pos-pos pembiayaan

Pos-pos pembiayaan yang perlu didefinisikan meliputi:

  • Biaya rutin bulanan
  • Biaya pelaksanaan program
  • Biaya incidental

5.5 Sumber-sumber dana potensial

Sumber-sumber dana yang potensial dan perlu dikaji meliputi:

  • Iuran bulanan anggota

Iuran bulanan anggota disepakati sebesar Rp 15.000 hingga bulan Juli (Untuk pelaksanaan program pengukuhan Kepengurusan Persatuan Pemuda-Pemudi Pakpak / PEDEMPAK )

  • Pemasukan dari donatur

5.6 Kontak Pertanyaan dan Komentar

Pertanyaan dan komentar dapat ditujukan kepada:

– Ermida Bancin                        081263338940

– Bettan K Padang                    088261676877

– Jitu  Solin                               085761113207

– Jhon Fredy Bancin                 0813 75084728

– E-mail                                    mpedempak@yahoo.com

– Facebook                              persatuan pemuda-pemudi pakpak (PEDEMPAK)

6. PENUTUP

Program ini membutuhkan dukungan yang nyata dari seluruh anggota  serta dari tokoh masyarakat Pakpak, pemuka agama, tokoh-tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat Pakpak  dan tokoh Adat dan sebagainya untuk mendorong upaya tercapainya tujuan bersama. Selanjutnya diharapkan program yang lain dapat diupayakan dimasa-masa mendatang.

LAMPIRAN

NO NAMA ALAMAT DESKRIPSI TANDA TANGAN

identitas pakpak

IDENTITAS PAKPAK ANTARA MARGA ATAU PENGAKAP DAN PEMAHAN
Pendekatan yang dilakukan untuk menentukan identitas pada masyarakat pakpak umumnya adalah Marga. Jika marganya dikenal umum ada di tanoh Pakpak maka ia menunjukkan secara nyata identitasnya. Meskipun kemudian ketika dilakukan pendalaman, bahwa watak, sifat, dan perilakunya sama sekali tidak mencerminkan kultur Pakpak yang berlaku. Mungkin karena berdiam didaerah “perlajangen” ia bisa sangat kental dengan kultur tertitori domisilinya. Jangankan adat istiadat bahkan bahasapun jauh dari ke-pakpak-annya. Sisi lain seperti “pengakap” dan “pemahan” sebagai orang Pakpak belum dijadikan wacana. Diskusi menyangkut bagaimana mengenal identitas kepakpakan dari sudut ini terlihat sama sekali belum tersentuh, meskipun di lebbuh interaksi sosial yang terbangun agaknya sadar atau tidak sadar tidak lagi semata-mata ditentukan oleh marga. Oleh karena itu ditingkat kesepakatan komunitas Pakpak pendekatan ini belum menemukan titik kesimpulan hingga kini. Memang barangkali sesekali terasa adanya Polemik diantara dua poros utama pandangan antara Marga ataukah Pengakap dan Pemahan sebagai satu pendekatan identitas Pakpak. Polemik ini kemudian berdampak pada keraguan jumlah marga sebenarnya pada suku Pakpak. Satu kelompok lebih menitikberatkan pada kesahihan berdasarkan keturunan sedangkan yang lain lebih melihat pada pemahan dan pengakapan selama berada di tanoh Pakpak. Sementara itu kesahihan keturunan juga mengalami kekaburan sejarah baik diukur dari sisi waktu maupun “penggeraren mpung”. Jika pada masyarakat Toba tarombo terlihat begitu kentara, maka berbeda dengan Pakpak yang rata-rata telah kehilangan pengenalan terhadap beberapa tingkatan “cundut” garis keturunannnya. Meskipun Mpung Kerras pernah mengklaim keberadaan etnis ini sekitar empat ribu tahun.

Secara umum marga yang ada di Pakpak ialah di Keppas Ujung, Angkat Bintang, Kudadiri, Capah, Gajah Manik, Sinamo, Maha, Pardosi, Sambo, Brampu, Penarik, Pasi dan Ciberro. Di Boang Kombih, Melayu, Ceun. Di Klasen Tinambunen, Tumangger, Pinayungen, Maharaja, Anakampun, Meka, Mungkur, Kesogihen dan Sikettang, Gajah, Brasa. Di pegagan Lingga, Matanari dan Manik. Sedangkan di Simsim ada Tinendung, Sitakar, Kebeaken, Lembeng, Padang batanghari, Padang, Brutu, Solin, Tendang, Banurea, Manik, , Boangmanalu, Bancin, Ciberro. Lalu diantaranya terdapat marga yang bagi sebahagian besar sudah diterima semisal Bako, Munthe, Kaloko, dll. Meskipun diantara marga yang disebut terdahulu juga masih sering menjadi perdebatan. Rekognasinya belum final. Marga-marga ini sebahagian besar khususnya mereka yang berdomisili di lebbuh sudah menunjukkan pemahan dan pengakapen sebagai orang Pakpak. Bahasa, tutur dan peradaten sepenuhnya menggunakan budaya pakpak. Belum lagi terhitung pula Galingging, Manjerrang, Maibang dan lain sebagainya ikut menerapkan pemahan dan pengakapen Pakpak. Meskipun masih bisa dihitung urutan generasi kedatangannya ke tanoh Pakpak. Marga memang menunjukkan asal muasal teritorial seseorang. Tetapi bagi masyarakat pakpak kini semakin terkaburkan. Sinamo misalnya sudah lebih merasa Simsim dibanding Keppas sebagai asal usul teritorialnyanya. Bahkan ulayatnya barangkali tidak ditemukan lagi didaerah asalnya. Demikian pula halnya mungkin Tendang, Rea dan Manik yang menyisakan saudaranya Gajah dan Brasa di tanoh Klasen.. Lebih jauh lagi Lembeng dan Kebeaken yang sebahagian menganggap diri berasal dari Samosir. Ada banyak marga yang merasa bahwa asal muasalnya berasal dari Toba. Tetapi setelah bermukim di tanoh Pakpak sekian lama menjadi bagian dari masyarakat pakpak baik dari sisi marga (meskipun belum diakui secara menyeluruh) maupun dalam pengakap dan pemahan. Apalagi jika klaim tarombo toba menjadi anutan, maka akan semakin banyak kekaburan yang ditemukan dan semakin tajam pula perdebatannya.

PENGAKAP DAN PEMAHAN

Secara faktual, tentu terlalu banyak realitas bahwa orang pakpak yang bermarga pakpak kehilangan pemahan dan pengakap sebagai orang Pakpak. Bahkan di tanoh perlajangen, bukan sekedar pengakap dan pemahan juga marga menjadi “salih”. Di lebbuh adakalnya ditemukan pula dalam acara adat “merbayo” dimana “perberru” dan “peranak” yang sama-sama bermarga Pakpak tetapi mempraktekkan adat yang bukan Pakpak. Tetapi sebaliknya terlalu banyak pula marga yang asal muasalnya bukan dari teritori Pakpak menjadi lebih Pakpak dalam pengakap dan Pemahan. Meskipun mereka tidak lagi berdomisili di lebbuh. Tidak semata-mata dalam bahasa, tutur dan adat, tetapi juga termanifestasi dalam citarasa pada bahasa dan gerak gerik tubuh. Bahkan juga pada melekatnya idiom, falsafah yang betul-betul menggambarkan ke-pakpak-an.
Cita rasa ke-pakpak-an ini kemudian dalam perilaku membela keberadaan Pakpak lebih eksplosif dibanding marga Pakpak. Mau dan mampu berdiri digaris terdepan. Mungkin jika digali lebih dalam sudah pula menjadi “persinabul” dalam kerja adat. Ekspressi ke-pakpak-an menjadi total, dan sama sekali tidak pernah tersirat mengingat asal usul teritorialnya. Pengakap dan pemahannya sama sekali sudah Pakpak. Namun terhadap mereka masih terdapat keragu-raguan bagi sebahagian orang, apalagi harus selalu dikaitkan dengan asal-usul. Meskipun terkadang hal itu sangat apologis atau mungkin sekedar menunjukkan secara phisik keaslian dan kemurnian ke-pakpak-an.
Barangkali harus diakui, tidak satupun diantara orang pakpak sekarang ini dapat mengklaim dirinya dalam pengertian asli dan murni dilihat dari berbagai aspek kultural Pakpak. Perkembangan zaman, teknologi, mobilitas penduduk dan proses assimilasi dan akulturasi tentu merupakan faktor penyebabnya. Oleh karena itu pernyataan yang bermakna asli atau murni tidak lagi tepat. Kita ini adalah orang Pakpak, dengan kondisi terkini terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya. Terlepas dari adanya perubahan dalam berbagai aspek perilaku kultiural kita. Bahasa kita tidak lagi sebagaimana bahasa yang digunakan “mpung si arnia” dan bahkan adat kita mengalami gerusan meskipun harus tetap ada kemufakatan kolektif bahwa yang kita praktekkan sekarang ini adalah adat pakpak.
Pemekaran Dairi dengan lahirnya Kabupaten Pakpak Bharat secara praktikal membuka soal identitas Pakpak ini dalam melihat berbagai aspek yang membutuhkan partisipasi. Secara konkrit dalam penerimaan CPNS, pengangkatan seseorang dalam jabatan tertentu atau hal-hal praktis lainnya issu ini menjadi arus utama. Fanatisme pada tingkat wajar memang diakui selain sebagai satu alat untuk membendung kepunahan masyarakat pakpak ataupun memberikan akses partisipasi yang lebih besar dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Tetapi tentu mesti dihindarkan agar tidak menjadi Simsim sentris, sehingga bukan saja etnis tetapi puak (suak) juga menjadi satu persoalan. Nah, manakala kondisi ini menemukan titik terang untuk dapat direlisasi, maka penentuan identitas Pakpak menjadi sangat vital. Apakah semata-mata ditentukan oleh marga atau pengakap dan pemahan sudah dijadikan pula sebagai indikator. Bahkan apabila margapun yang digunakan, akan pula menyisakan pertanyaan marga yang lahir di tanoh Pakpak atau marga yang kemudian sudah diterima sebagai marga Pakpak.
Dalam menjawab seberapa banyak sebetulnya marga Pakpakpun mungkin harus pula ada perdebatan, sebab secara khusus belum pernah ada “zikarah” untuk menarik kesimpulan tentang ini. Ketidak sepakatan dalam memberikan pengakuan terhadap pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Pakpak khususnya dilihat dari marga tampaknya masih terjadi. Meskipun misalnya Ypes dalam bukunya “Nota Omtrent Singkel En De Pakpak landen” tahun 1907 sudah menemukan banyak marga yang kini malah tidak dikenali sebagai Pakpak. Marga-marga itu adalah Goci, Buluara, Kumbi, Pokan, Sambo, Maha, Pardosi, Manik, Tendang, Banurea, Gajah. Berasa, Beringin, Bako, Meka, Mungkur, Maibun (atau mungkin Marbun), Tsewen, Si Ketang, Kasogian, Ciberro, Penarik, Lembang, Kabeaken, Si Gala, Pinim, Jabat, Pincawan, Pelies, Seberutu, Kembang, Meciho, Sinaga, Tumorang, Melayu, Barat, Benjerang, Padang, Seragi, Munthe, Solin, Perbancin, Boangmanalu, Ujung, Angkat, Bintang, Purba, Barus. Mereka bahkan menyandang jabatan baik pengulu, kepala kampung, pemangku raja, imam, raja muda, raja lela, hakim dan lain-lain. Keturunan-keturunan marga itu masih berada di tanoh pakpak, dengan “pengakap dan pemahan” yang tetap Pakpak. Oleh karena itu, barangkali perlu perenungan, kajian, diskusi untuk memantapkan kesepakatan kolektif terhadap perlunya menjadikan “pengakap dan pemahan” sebagai satu pendekatan dalam menentukan identitas Pakpak. Marga, tidak serta merta memberikan garansi bahwa seseorang adalah Pakpak dalam arti yang sebenarnya, tetapi dengan mencantumkan marga tentu terbuka pula akses untuk menelusuri cita rasa ke-pakpak-an yang disandangnya. Etnis ini hendaklah bertumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek, menjadi besar, dikenal dan mendapatkan posisi yang sederajat dengan etnis lain di Indonesia, sebagai salah satu khasanah kekayaan bangsa. Keterbukaan terhadap masuknya informasi dan teknologi tidak lagi dapat dielakkan dan secara hakikipun adalah merupakan ciri dan watak Pakpak yang perlu tetap dipelihara.

Oleh : Pario Banurea

NYANYIAN SUNYI DARI TANOH PAKPAK
Jika naik kendaraan dari Medan, sepanjang 153 kilometer menuju tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan menikmati jalan turun-naik, melintasi indahnya pemandangan Tanah Karo, menikmati birunya tao Toba dan genitnya bibir tao di tepian Silalahi, serta awan tipis yang menyelimuti hijaunya anak-anak gunung yang bertumpukan di kiri jalan.
Umpamakan perjalanan Anda menuju tanah Dairi dan Pakpak Bharat itu untuk menghadiri jamuan makan, maka apa yang tersaji di perjalanan tadi adalah santapan selamat datang. Seterusnya, di tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan disajikan berbagai ragam santapan utama. Salah satu pilihannya adalah musik. Seperti juga di tanah Batak lainnya, musik-musik tradisional yang akan ditemui bisa dipastikan tidak banyak berbeda. Namun, kalau masuk lebih jauh lagi, Anda akan tercengang dan dijamin menggeleng-gelengkan kepala, karena kagum pada apa yang Anda dengar dan saksikan.
Ada dua jenis nyanyian orang Pakpak yang tidak lazim terdengar. Disebut tidak lazim, karena kedua nyanyian itu hanya dikumandangkan di tempat yang sangat khusus. Dua-duanya dinyanyikan di tempat yang sunyi. Yang pertama disebut tangis milangi (tangis menghitung), dinyanyikan di tempat mana hati semua orang dalam keadaan sunyi hati. Persisnya di tempat orang meninggal dunia. Dan satu lagi, Odong-Odong, yang dinyanyikan di tempat yang benar-benar sunyi. Di tengah hutan rimba raya, di mana penyanyinya berada di atas pohon kemenyan, menumpahkan semua kerinduan dan seluruh harapan yang mengalir di nadinya.
Jangan tanya bagaimana Tangis Milangi atau Odong-Odong itu ada. Dengan segala kekhasannya, dia sudah ada dan menjadi milik orang Pakpak secara turun temurun. Jangan pula tanyakan siapa penciptanya, sebab sejak dia muncul dengan patron yang konvensional, tidak ada yang mencatat nama penciptanya. Tapi, sebut saja dia ciptaan NN (No Name) sebagaimana lazimnya perlakukan kepada karya musik yang tidak diketahui nama penciptanya. Apalagi, yang pakem hanyalah lagunya, sementara liriknya selalu berubah-ubah, tergantung siapa yang menyanyikan dan perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatinya saat itu.

TANGIS MILANGI
Tangis Milangi (Tangis Menghitung), hanya kita dengar di saat ada kemalangan. Ketika seseorang meninggal dunia, ada pihak-pihak yang mempersembahkan Tangis Milangi itu sebagai komunikasi terakhir, sebelum jenazah dimakamkan. Biasanya, yang mempersembahkan tangis milangi itu adalah kaum perempuan, ibu-ibu. Durasi Tangis Milangi tidak ditentukan. Tergantung panjang pendeknya kehidupan dijalani orang yang meninggal dunia. Atau tergantung panjang pendeknya pengetahuan yang ber-Tangis Milangi tentang orang yang meninggal dunia.
Tangis Milangi dimasukkan ke dalam golongan nyanyian, karena Tangis Milangi itu memang dinyanyikan (tangisan yang memenuhi semua unsur yang dibutuhkan oleh nyanyian), dan sebagai cirri khasnya yang lain adalah, selalu dinyanyikan dengan nada minor.

Kepeken berngini rebbak deng kita kirana
Naing mangan pelleng nimu katemu
Ndor aku meddem asa ndungo siceggen
Asa giam ndor kubahan pengidoenmi
Nggo kessa cihur ceggen ari
Ndungo ko Pa, ninggu
Enggo ko keppe laus, Bapa
Uuuuuuuuu

Padahal tadi malam kita masih bersama ngobrol
Katamu ingin makan pelleng
Saya cepat tidur agar bangun pagi
Biar cepat saya kerjakan apa yang kau minta
Begitu pagi hari terang
Bangun, Pak, kataku
Ternyata engkau sudah pergi, Bapak
Uuuuuu (bagian ini disebut derru-derru/menangis jerit-jeritan)

Lirik di atas adalah salah satu yang dibuat secara bebas. Begitu bebasnya lirik Tangis Milangi itu, tanpa ada batasan apa-apa seperti juga durasinya. Bahkan, kadang-kadang sesuai yang rahasiapun disisipkan di sana, misalnya bicara tentang sesuatu yang belum terselesaikan dengan orang yang meninggal dunia (hutang piutang misalnya).
Tangis Milangi, sudah ada sejak dulu. Sehingga, bagi orang Pakpak, kematian tanpa ada Tangis Milangi, dianggap seperti sesuatu yang belum sempurna. Pilu mendengarnya, tapi kadang-kadang mendengar lirik yang dikarang pada saat itu juga, dalam hati bisa geli. Atau kita juga bisa geli, karena bisa mendadak yang tengah menangis milangi berhenti dan mengatakan kepada orang di sebelahnya, ¨Giliranmu sekarang!¨ Atau sebaliknya, ketika bagian Uuuuuuuu (meraung-raung), tiba-tiba saja dia pingsan.

ODONG-ODONG
Walaupun masyarakat Pakpak terkenal dengan kebun kopi, berkebun nilam, dan mencari getah kemenyan, dan tiga-tiganya berasa di tempat sepi, Odong-Odong lebih dikenal milik perkemenjen (pencari getah kemenyan) di hutan belantara. Sampai sekarang, perkemenjen masih terus melakukan pekerjaannya dengan pola dan cara yang sama. Seperti orang mau mergeraha (berperang), perkemenjen akan diberangkatkan oleh keluarga, dilengkapi dengan segala kebutuhan berhari-hari tinggal di hutan, termasuk perlengkapan ,perangnya, berupa golok, congkil (alat untuk mencongkel getah kemenyan).
Perkemenjen selalu laki-laki. Persoalannya, medan yang dihadapi selalu cukup ekstrem, masuk hutan sendirian atau berdua, yang tentu saja bisa tiba-tiba berhadapan bukan hanya cuaca, tapi segala sesuatu yang hidup di hutan, termasuk binatang buas.
Setelah memasuki hutan belantara, biasanya mereka akan membuat semacam saung (dalam bahasa Pakpak disebut sapo-sapo/rumah-rumahan) tempat mereka menginap dan berteduh kalau hujan tiba-tiba turun.
Tinggal di hutan bisa berhari-hari, bahkan bisa dalam hitungan minggu. Tergantung jumlah getah kemenyan yang dikumpulkan.
Bisa dibayangkan, sendirian, jauh dari keluarga, masak sendiri, tidur sendiri. Yang pasti temannya hanya ada satu: sunyi. Terutama saat perkemenjen memanjat pohon kemenyan di siang hari. Di bawah terik matahari perkemenjen berusaha agar getah kemenyan keluar dan mengental. Angin sepoi-sepoi, ada nyanyian burung dan desir angin meniup daun-daunan penambah rasa sunyi. Bayangan wajah anak dan istri tentu langsung menggelayut di benak. Saat itulah biasanya perkemenjem menumpahkan rasa sunyi dan semua harapannya ke dalam lagu yang disebut Odong-Odong.
Seperti juga Tangis Milangi, Odong-Odong tidak dibatasi durasi, tidak dibatasi lirik. Tergantung yang ber-Odong-Odong mau berhenti kapan, dan mau membuat liriknya seperti apa.

Otang kabang-kabang mi urang Julu ko lebbe manuk-manuk
Pesoh mo giam teddoh ni ate mendahi si buyung
I tengah rambah en ngo bapana merkemenjen
Giam burju-burju ia sikkola
Barang mi juma mendengani inangna
Odong-odong-odonggggggg (ditingkahi dengan legato yang meliuk-liuk)

Terbang ke urang Julu (ke daerah hulu) lah kau burung
Sampaikan rindu hati kepada si buyung (anak)
Bapaknya di tengah hutan mencari kemenyan
Mudah-mudahan dia baik-baik sekolah
Atau ke ladang menemani ibunya
Odong..odong..odong..

(contoh lirik bebas Odong-Odong)
Tangis Milangi maupun Odong-Odong adalah sebuah peninggalan nenek moyang orang Pakpak yang sesungguhnya tiada bertara. Yang berhubungan dengan jiwa, dan dibebaskan kepada jiwa siapa saja yang membawakannya. Bisa jadi, itu pula yang membuatnya terus lestari, sebab setiap saat bisa diaktualisasi, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan batin yang membawakannya.

*** penulis: Hans Miller Banureah

LEGENDA SIMBUYAK-MBUYAK
Pada masa dahulu, di tanah Dairi ada sebuah negeri Urang Julu namanya. Di negeri itulah hidup sebuah keluarga terdiri dari sembilan orang yaitu ibu, bapak dan tujuh orang anaknya. Negeri itu besar dan penduduknya banyak. Nama anak-anaknya itu mulai dari yang paling tua berturut-turut adalah Simbuyak-mbuyak, Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger dan Anak Ampun. Adapun si sulung cacat tubuhnya sejak lahir, yaitu tulang belakangnya sangat lemah. Karena itu dia tak bisa berdiri apalagi berjalan seperti saudara-saudaranya yang lain. Melihat keadaan si sulung yang demikian, orang tua itu dengan bijaksana menasehati anak-anaknya; ” Manusia memang menginginkan yang sempurna dan yang baik, tapi Tuhan yang menciptakan kita lebih berkuasa dan lebih menentukan. Jika dikehendakinya dikuranginya kesempurnaan kita, dan jadilah kita seperti abangmu itu. Tetapi walau bagaimana dia adalah yang tertua diantara kalian. Dan dia juga adalah ciptaan Tuhan. Karena itu kalian harus tetap hormat sebagaimana layaknya adik-adik kepada abangnya. Dan jika itu kalian tidak lakukan , maka kalian akan berdosa menurut pandangan Tuhan Yang Maha Pencipta, karena telah membeda-bedakan ciptaan-Nya. Dan semua nasehat itu dilaksanakan dengan baik oleh keenam anaknya itu. Demikianlah ketujuh bersaudara itu hidup rukun dan damai, saling hormat-menghormati satu sama lain. Lama kelamaan meningkat dewasalah anak-anak itu dan sebagaimana biasanya di Tanah dairi, maka pemuda-pemuda yang sudah meningkat dewasa haruslah meninggalkan kampung halaman, merantau ketempat-tempat sekitar, mencari nafkah untuk hidup. Bermacam-macam pekerjaan yang dapat dilakukan pemuda-pemuda pada waktu itu, dan bahkan juga sampai sekarang ini. Umpamanya mereka mencari kemenya, mengambil mayang ataupun mengumpulkan kapur barur di hutan. Ketika itu kapur barus sangat bagus harnya, harganya berimbang dengan harga emas. Hanya emas yang ada waktu itu adalah yang rendah mutunya, yakni 8 karat saja. Demikianlah adik Simbuyakmbuyak telah bertekat hendak pergi merantau mencari kapur barus. Ketika hal itu diberitahukan mereka kepada abangnya itu, maka siabang ini pun menyatakan keinginannya, agar diajak turut bersama-sama. ” Kalian ikutkanlah aku dalam rombongan. Setidak-tidaknya aku akan dapat menjaga gubuk kalian pada waktu kalian pergi ke hutan”. Begitulah kata Simbuyak-mbuyak kepada adik-adiknya. Akhirnya mereka pun setuju, begitu pula kedua orang tua mereka. Maka berangkatlah ketujuh bersaudara itu. Perjalanan mereka amat sulit, karena melalui hutan dan lembah serta gunung-gunung. Apalagi dalam perjalan itu mereka harus menggendong abangnya secara berganti-ganti. Dan ditempat-tempat tertentu seperti pendakian dan penurunan, Simbuyak-mbuyak mereka tandu bersama-sama. Lama kelamaan sampai jugalah mereka ke hutan yang banyak menghasilkan kapur barus. Mereka memilih lereng gunung Sijagar, tempat membuat gubuk untuk ditinggali selama mencari kapur barus itu. Tempat yang mereka pilih itu tepat dipertengahan lereng gunung itu , sesuai dengan permintaan abang mereka Simbuyak-mbuyak. Caranya mereka menentukan tempat itu ialah dengan jalan mengukur jarak dari kaki sampai ke puncak Gunung. Tepat dipertengahan jarak itu, di lereng gunung Sijagar mereka bangun gubuk. Kayu-kayu yang selama ini dipakai untuk pemikul Simbuyak- mbuyak mereka tanamkan dimuka gubuk. Tak lama kemudian tumbuhlah disana pohon-pohon yang rimbun. Sampai sekarang ini jenis kayu yang berasal dari tanaman Simbuyak-mbuyak dan adik-adiknya itu masih ada disana, begitu juga bekas tempat perumahan mereka. Dari Gunung Sijagar kalau dilayangkan pandang, maka akan jelas terlihat daerah Manduamas dan Boang terbentang luas. Dan jika pandang diarahkan ke tempat yang lebin jauh , mata kita akan tertumbuk denga laut lepas Samudera Indonesia. Di kedua lereng gunung Sijagar mengalir dua buah anak sungai . Keduanya bersatu menjadi sebuah sungai yang lebih luas di dataran rendah, dinamakan sungai Sijagar. Sungai ini kemudian bermuara ke laut. Air sungai Sijagar sangat jernih dan bening, dan rasanya sejuk serta segar. Adapun kebiasaan orang mencari kapur barus ialah sepakat, seia sekata . Adalah pantangan bagi mereka untuk bertengkar dan bersengketa bagi mereka sesama pencari kapur barus. ” Hanyalah orang seia sekata saja yang mungkin berhasil dalam usaha mereka “, demikian petua yang harus dipegang teguh oleh para pencari kapur barus itu. Keenam adik Simbuyak-mbuyak mulailah mencari kapur barus ke dalam hutan. Simbuyak-mbuyak sendiri tinggal di gubuk. Sebagai pengisi waktu dia bekerja memintal tali. Ternyata hasil yang diperoleh adik-adiknya itu tidak sebanyak yang diharapkan. Beberapa lama mereka bekerja keras mengumpulkan kapur barus hasilnya tetap mengecewakan mereka. Ada satu hal lagi yang menambah kekecewaan Simbuyak-mbuyak, yakni hasi yang sedikit itu sering-sering habis dimakan abangnya itu. Dengan demikian hanya sedikit saja kapur barus yang dapoat mereka kumpulkan di gubuk mereka. Pada mulanya mereka masih dapat bersabar melihat tingkah laku abangnya. Tetapi lama kelamaan habis juga kesabaran mereka. Pada suatu kali berkata Si Turuten : ” Keadaan kita memang tidak adil. Kita semua bekerja keras, tetapi abang kita yang enak-enak saja memakani hasil-hasil yang berdikit-dikit kita kumpilkan. Jika begini terus-terusan, akan sia-sia sajalah jerih payah kita.” Apa yang dikatakan Si Turuten dapat dibenarkan oleh yang lain, namun demikian Tinambunen dan Tumangger tetap berusaha menyabarkan . ” Kita jangan sampai berselisih”, kata yang berdua itu kepada yang lainnya. Kemudian ditunjukkannya jalan, ” Jika kesepakatan sudah tidak dapat diteruskan, daripada berselisih ditengah hutan ini, lebih baik pulang saja kerumah orang tua”. Akhirnya mereka setuju untguk meneruskan usaha-usaha mencari kapur barus itu. Simbuyak-mbuyak sendiri mengetahui ada rasa tidak senang pada beberapa orang adiknya. Tetapi dia selalu saja berbuat seolah-olah tidak tahu. Dan jika ditanya adiknya apa guna tali yang dipintalnya itu, dia tidak mau menjelaskan, kecuali berkata : ” Tunggulah, pada suatu saat nanti, tentu tali ini akan berguna untuk kita semua”. Rupanya Simbuyak-mbuyak bukan manusia biasa. Malam hari ketika semua adiknya sudah tidur lelap, maka pergilah dia ke luar menjelajahi hutan. Dia dapat mengetahui mana-mana diantara pohon itu yang berisi kapur barus dan yang tidak. Bahkan dapat juga diketahui sampai bnerapa banyak kapur barus yang ada di dalam pohon . Namun hal itu tidak pernah diceritakannya kepada adik-adiknya. Dipihak adik-adiknya rasa tidak puaspun terus berkembang. Karena tidak ada lagi jalan lain, maka pada suatu kali di desaknyalah abangnya itu agar mengizinkan mereka pulang , dengan alasan untuk mengambil uang belanja ke kampung. ” Paling lama kami akan pergi selama lima malam, dan sesudah itu kami akan berada kembali disini”, demikian kata mereka. Simbuyak menjawab ” Jika memang demikian cara yang baik dan yang kita sepakati , maka saya dapat menerimanya”. Pergilah kalian pulang, dan biarkan saya tinggal sendiri di gubuk ini”, katanya. Hanya permintaannya , kalau durian istimewa milik mereka dikampung sudah berbuah ranum, agar dia dijepu ke Sijagar. Pada waktu itulah dia akan turut pulang guna berpesta dikampung memakan durian dan memotong ternak peliharaan mereka. Jarak antara Sijagar dengan kampung Urang Julu, kira-kira dua hari perjalanan, Karena itu timbul rasa kasihan dihati Tirambunen dan Tumangger terhadap abangnya yang cacat itu hendak ditinggalkan sendirian di dalam hutan. Yang berdua ini meminta supaya diperbolehkan tinggal untuk menemani Simbuyak-mbuyak. Hal itu tidak disetujui oleh Turuten, juga oleh Simbuyak-mbuyak. Tinambunen dan Tumangger mendesak lagi, agar sebaiknya abangnya yang paling tua itu dibawa saja pulang. ” Kami berdualah yang menggendongnya selama dalam perjalanan”, kata yang berdua itu. Usul inipun tidak disetujui oleh yang lain. Begitu pula Simbuyak-mbuyak nampaknya lebih suka ditinggalkan dari pada dibawa pulang ke kampung. ” Adikku yang aku sayangi”, katanya. ” Kalian pulanglah bersama-sama. Itulah tandanya seia sekata. Mengenai diriku janganlah kalian susahkan benar. Tinggalkanlah kapur barus yang ada itu untuk bekalku. Jika kalian sampai bertengkar karena keadaanku, itu tidak baik. Tuhan telah menjadikanku dalam keadaan begini. Dan jika karena itu kalian bertengkar itu artinya kita menyesali Maha Pencipta. Tuhan akan marah, dan orang tua kitapun akan marah terhadap tingkah laku kita itu”. Begitulah kata Simbuyak-mbuyak kepada adik-adiknya. Pulanglah keenam adik Simbuyak-mbuyak . Kedatangan mereka di Urang Julu disambut kedua orang tuanya dengan pertanyaan, mengapa sampai Simbuyak-mbuyak ditinggalkan sendirian ditengah hutan. Mereka menceritakan pengalaman selama mencari kapur barus dan mempersalahkan perbuatan abangnya. Mereka minta pula, agar sebelum berangkat kembali mencari kapur barus, diadakan dulu pesta makan durian istimewa , dan memotong hewan ternak. Tinambunen dan Tumangger mengingatkan akan pesan abang mereka , agar dijemput ke Sijagar, bila pesta akan diadakan. Maka berangkatlah keduanya. Tanpa menunggu datangnya Simbuyak-mbuyak, Turuten terus saja mengambil galah dan menjolok buah durian istimewa. Durian jatuh dan ternyata masih belum ranum seperti yang dipesankan oleh Simbuyak-mbuyak dulu. Keistimewaan durian yang sebatang itu ialah buahnya hanya satu, tapi bukan main besar dan enak rasanya. Jika buah itu dibelah, maka besar belahannya itu sampai dua hasta. Sesudah buah durian itu jatuh, maka disembelihlah hewan ternak yang paling gemuk, dan berpestalah keempat bersaudara itu dengan tidak disertai oleh saudara mereka yang tiga orang lagi. Di Sijagar, begitu adik-adiknya berangkat, Simbuyak-mbuyak segera menjelmakan dirinya sebagai seorang pemuda yang gagah dan tampan. Ketika pada suatu kali ia pergi mandi ke sungai, didapati beberapa kulit durian hanyut terapung-apung. Dan dengan ilmunya dapat ditangkapnya suara ternak yang disembelih di kampungnya. Sekarang tahulah ia, bahwa adik-adiknya sudah melangsungkan pesta di Urang Julu. Selesai mandi pulanglah Simbuyak-mbuyak ke gubuknya. Mulailah dia bekerja merentangkan tali yang selama ini dipintalnya. Tali itu dihubungkannya dengan semua pohon yang sudah terisi dengan kapur barus di hutan itu. Ada sebatang pohon yang penuh dengan kapur sejak dari akar sampai ke pucuknya. Pohon itu amat besar dan tinggi. Pohon itulah didoakan Simbuyak-mbuyak agar tumbang, dan doanya dikabulkan oleh yang Maha Kuasa. Setelah pohon besar itu jatuh ke tanah, dipotongnyalah sepanjang tujuh depa, tujuh hasta, tujuh jengkal dan tujuh jari. Mendoalah dia kembali, maka terbelah dua kayu itu. Dan kayu itupun bersatu kembal Tinambunen dan Tumangger pun sampailah ke gubuk tempat Simbuyak-mbuyak ditinggalkannya beberapa hari yang lalu. Keduanya tak menampak abangnya di gubuk itu. Yang ada hanyalah tali terentang secara bersimpang siur dari gubuk itu kedalam hutan. Dan didapatinya pula sebatang pohon terletak dihalaman gubuk pondok dan penuh dengan kapur barus. Potongan pohon itu sangat bagus ujung pangkalnya, karena memang disengaja membuatnya demikian. Didekatinya kayu itu, tampak abangnya terbaring didalam belahannya. Mereka berdua membujuk abangnya itu, tetapi tak berhasil. Dari dalam belahan kayu itu terdengar suara Simbuyak-mbuyak menyampaikan pesannya untuk kedua orang tuanya dan handai tolan lainnya. ” Sampaikan salamku dan permohonan maafku kepada mereka semua karena aku harus berangkat”, katanya. Kepada adiknya berdua itu diberitahukannya, bahwa semua kayu yang kena rentangan tali-temali dari gubuk itu, adalah kayu yang banyak berisi kapur barus. “Itulah kalian ambil sebagai pengganti kapur barus yang habis kumakani selama ini” tambahnya. Diapun mengisahkan rencananya semula, bahwa pesta memakan durian dan menyembelih hewan ternak yang gemuk diadakan untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. “Pintaku, agar diriku menjelma menjadi seorang pemuda biasa yang sehat tiada cacat seperti ini”, kata Simbuyak-mbuyak. Dikatakannya : “keadaan sudah terlanjur begini, dan terimalah kenyataan ini dengan ikhlas tanpa penyesalan”. Kepada adiknya berdua, Tinambunen dan Tumangger diingatkannya, bahwa mereka akan mendapat keturunan yang baik-baik, berbudi dan pandai di kemudian hari. “Itulah karurnia Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kalian berdua”, kata abangnya. “Akhirnya semacam pertanda di masa yang akan datang, jika kelak kalian melihat banyak burung pamal di tepi laut yang jumlahnya sampai ribuan ekor, jangan heran, itulah kirimanku, sebagai ganti sekapur sirih menjelang ayah bunda serta handai tolan. Burung itu akan sangat jinak, dan akan dimasukinya rumah kalian. Tangkaplah, kemudian sembelih, dan makanlah beramai-ramai kirimanku itu”, kata Simbuyak-mbuyak. Pertanda lain yang diberitahukannya adalah : “jika angin bertiup kencang disertai hujan lebat turun dari langit akan ada burung inggal-inggal berterbangan di angkasa. Perhatikanlah ekor burung itu. Kalau ekornya diayunkannya arah ke bawah, itu tandanya telah tiba musim manungal dan menanam padi. Tetapi mungkin juga ekornya digerakkannya arah ke samping, menjadi tanda telah berakhirnya musim manungal. Jangan abaikan tanda-tanda itu karena bila dilanggar tanaman tidak akan menjadi”. Sesudah mengucapkan pesan-pesannya itu, minta dirilah Simbuyak-mbuyak kepada kedua adiknya. Begitu suara dari dalam belahan kayu tadi berhenti, maka meluncurlah potongan kayu itu dengan sangat kencangnya. Luncurannya itu seperti perahu yang berlayar dengan lajunya di tengah samudera. Searah dengan tujuan gerak kayu itu, di angkasa terlihat pula serombongan besar burung terbang berkawan-kawan. Kayu tadi meluncur terus dengan suara gemuruh, dan akhirnya mencebur ke dalam laut. Tinambunen dan Tumangger yang sejak tadi terheran saja melihat peristiwa itu, sekarang baru menyadari dirinya. Keduanyapun menangis dengan sejadi-jadinya, karena sangat sedih ditinggalkannya itu. Di kemudian hari ternyata, bahwa pohon-pohon yang dikenai oleh tali-tali Simbuyak-mbuyak memang banyak mengandung kapur barus. Keenam orang adiknya memperoleh hasil yang banyak pula karena itu. Mereka kemudian menjadi kaya. Tentang Simbuyak-mbuyak tak diketahui lagi keadaannya sesudah itu. Hanya saja pernah terjadi para penangkap ikan mendapat perolehan yang banyak di sebuah tempat tak jauh dari pantai. Yang mereka ketahui hanya bahwa ikan yang banyak itu berkumpul di sekitar potongan kayu yang hanyut terapung-apung. Orang menduga mungkin kayu itulah yang dulunya yang dipakai Simbuyak-mbuyak meluncur dari dari lereng gunung Sijagar dan kemudian mencebur ke dalam laut. Dan ketika kayu itu dipukul orang dengan maksud bermain-main, terdengar suara dari dalam. Suara itu meminta agar dia dikeluarkan dari kayu itu. Ketika ditanyakan asal usulnya dia menyatakan tak tahu akan hal itu.

Sai adong-adong do tahe. On ma judul ni angka film molo dibahen tu Bahasa Batak. Rap manjaha ma hita:

1. Enemy at The Gates = Matte ho, nga ro musuhi!
2. Remember Te Titans = Ingot hamu partompaon i
3. The Italian Job = Parbola
4. Die Hard = Dang ra mate
5. Die Hard II = Tong, dang olo mate
6. Die Hard III = Dang marna mate puang !!
7. Bad Boys = Si roa balangs
8. Sleepless in Seattle = Markombur di radio, diaboi modom?
9. Lost in Space = Dibondut banua holling
10. X-Men = Pantang so bilak

11. X-Men 2 = Tong sai pabilak-bilakhon
12. The Brotherhood of War = Manat Mardongan-tubu
13. Paycheck = Bayar habis panen ma i, bah!
14. Independence Day = Agustusan
15. The Day After Tomorrow = Haduan
16. Die Another Day = Ai hatop nai ho mate ompung, dang boi painteonmu minggu naro? nga panen hita disi..
17. Home Alone = Nunga lao tu balian natorasna
18. Silence of the Lamb = Hambing Parhohom
19. Planet of the Apes = Huta ni angka Bodat
20. Gone in Sixty Second = Marimpot-impot

21. Original Sin = Na taboi puang … (hush)
22. Freddy vs Jason = Peredi VS Jekson
23. Air Bud = Panangga (biang)
24. How To Lose A Girl in 10 Days = Nunga ditopari haletna
25. Lord Of The Ring = Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup; tulang ni anak, dohot tulang ni boru, ido kan ? )
26. Deep Impact = Hansit naii
27. Million Dollar Baby = Ai sajuta arga ni Babi saonari? (Butetttt, nga dilean ho mangan babi ???? )
28. Blackhawk Down = Lali lao manangkup manuk
29. Saving Private Ryan = (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar ‘rian’. Na adong Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, Poltak … dll.)
30. Dumb and Dumber = Lam Loakon

31. The Collateral = Si Padalan Hepeng (rentenir nih yee)
32. Braveheart = Parate-ate
33. Payback = Garar Utangmu
34. My Greek Big Fat Wedding = Muli sikobol-kobol
35. I Know What You Did Last Summer = Datu
36. I Still Know What You Did Last Summer = Berarti Datu Bolon Ibana
37. Cold Mountain = Dolok Sanggul
38. Drunken Master = Parmitu
39. Any Given Sunday=Marminggu Hamu Fuang
40. The Gift = Durung-Durung

41. Run Away Jury = Martabuni Ho Tulang
42. Step Mom= Inang Panirang-Nirangan
43. Lion King = Sisingamangaraja
44. Beautiful Mind = Nipi Nama i
45. Mr. & Mrs. Smith = Si Semit Dohot Oroan na
46. Rest In Peace = Dison Do Maradian

Sai adong-adong do tahe. On ma judul ni angka film molo dibahen tu Bahasa Batak. Rap manjaha ma hita:Sai adong-adong do tahe. On ma judul ni angka film molo dibahen tu Bahasa Batak. Rap manjaha ma hita: 1. Enemy at The Gates = Matte ho, nga ro musuhi! 2. Remember Te Titans = Ingot hamu partompaon i 3. The Italian Job = Parbola 4. Die Hard = Dang ra mate 5. Die Hard II = Tong, dang olo mate 6. Die Hard III = Dang marna mate puang !! 7. Bad Boys = Si roa balangs 8. Sleepless in Seattle = Markombur di radio, diaboi modom? 9. Lost in Space = Dibondut banua holling 10. X-Men = Pantang so bilak 11. X-Men 2 = Tong sai pabilak-bilakhon 12. The Brotherhood of War = Manat Mardongan-tubu 13. Paycheck = Bayar habis panen ma i, bah! 14. Independence Day = Agustusan 15. The Day After Tomorrow = Haduan 16. Die Another Day = Ai hatop nai ho mate ompung, dang boi painteonmu minggu naro? nga panen hita disi.. 17. Home Alone = Nunga lao tu balian natorasna 18. Silence of the Lamb = Hambing Parhohom 19. Planet of the Apes = Huta ni angka Bodat 20. Gone in Sixty Second = Marimpot-impot 21. Original Sin = Na taboi puang … (hush) 22. Freddy vs Jason = Peredi VS Jekson 23. Air Bud = Panangga (biang) 24. How To Lose A Girl in 10 Days = Nunga ditopari haletna 25. Lord Of The Ring = Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup; tulang ni anak, dohot tulang ni boru, ido kan ? ) 26. Deep Impact = Hansit naii 27. Million Dollar Baby = Ai sajuta arga ni Babi saonari? (Butetttt, nga dilean ho mangan babi ???? ) 28. Blackhawk Down = Lali lao manangkup manuk 29. Saving Private Ryan = (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar ‘rian’. Na adong Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, Poltak … dll.) 30. Dumb and Dumber = Lam Loakon 31. The Collateral = Si Padalan Hepeng (rentenir nih yee) 32. Braveheart = Parate-ate 33. Payback = Garar Utangmu 34. My Greek Big Fat Wedding = Muli sikobol-kobol 35. I Know What You Did Last Summer = Datu 36. I Still Know What You Did Last Summer = Berarti Datu Bolon Ibana 37. Cold Mountain = Dolok Sanggul 38. Drunken Master = Parmitu 39. Any Given Sunday=Marminggu Hamu Fuang 40. The Gift = Durung-Durung 41. Run Away Jury = Martabuni Ho Tulang 42. Step Mom= Inang Panirang-Nirangan 43. Lion King = Sisingamangaraja 44. Beautiful Mind = Nipi Nama i 45. Mr. & Mrs. Smith = Si Semit Dohot Oroan na 46. Rest In Peace = Dison Do MaradianSai adong-adong do tahe. On ma judul ni angka film molo dibahen tu Bahasa Batak. Rap manjaha ma hita: 1. Enemy at The Gates = Matte ho, nga ro musuhi! 2. Remember Te Titans = Ingot hamu partompaon i 3. The Italian Job = Parbola 4. Die Hard = Dang ra mate 5. Die Hard II = Tong, dang olo mate 6. Die Hard III = Dang marna mate puang !! 7. Bad Boys = Si roa balangs 8. Sleepless in Seattle = Markombur di radio, diaboi modom? 9. Lost in Space = Dibondut banua holling 10. X-Men = Pantang so bilak 11. X-Men 2 = Tong sai pabilak-bilakhon 12. The Brotherhood of War = Manat Mardongan-tubu 13. Paycheck = Bayar habis panen ma i, bah! 14. Independence Day = Agustusan 15. The Day After Tomorrow = Haduan 16. Die Another Day = Ai hatop nai ho mate ompung, dang boi painteonmu minggu naro? nga panen hita disi.. 17. Home Alone = Nunga lao tu balian natorasna 18. Silence of the Lamb = Hambing Parhohom 19. Planet of the Apes = Huta ni angka Bodat 20. Gone in Sixty Second = Marimpot-impot 21. Original Sin = Na taboi puang … (hush) 22. Freddy vs Jason = Peredi VS Jekson 23. Air Bud = Panangga (biang) 24. How To Lose A Girl in 10 Days = Nunga ditopari haletna 25. Lord Of The Ring = Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup; tulang ni anak, dohot tulang ni boru, ido kan ? ) 26. Deep Impact = Hansit naii 27. Million Dollar Baby = Ai sajuta arga ni Babi saonari? (Butetttt, nga dilean ho mangan babi ???? ) 28. Blackhawk Down = Lali lao manangkup manuk 29. Saving Private Ryan = (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar ‘rian’. Na adong Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, Poltak … dll.) 30. Dumb and Dumber = Lam Loakon 31. The Collateral = Si Padalan Hepeng (rentenir nih yee) 32. Braveheart = Parate-ate 33. Payback = Garar Utangmu 34. My Greek Big Fat Wedding = Muli sikobol-kobol 35. I Know What You Did Last Summer = Datu 36. I Still Know What You Did Last Summer = Berarti Datu Bolon Ibana 37. Cold Mountain = Dolok Sanggul 38. Drunken Master = Parmitu 39. Any Given Sunday=Marminggu Hamu Fuang 40. The Gift = Durung-Durung 41. Run Away Jury = Martabuni Ho Tulang 42. Step Mom= Inang Panirang-Nirangan 43. Lion King = Sisingamangaraja 44. Beautiful Mind = Nipi Nama i 45. Mr. & Mrs. Smith = Si Semit Dohot Oroan na 46. Rest In Peace = Dison Do Maradian

Sai adong-adong do tahe. On ma judul ni angka film molo dibahen tu Bahasa Batak. Rap manjaha ma hita:

1. Enemy at The Gates = Matte ho, nga ro musuhi!
2. Remember Te Titans = Ingot hamu partompaon i
3. The Italian Job = Parbola
4. Die Hard = Dang ra mate
5. Die Hard II = Tong, dang olo mate
6. Die Hard III = Dang marna mate puang !!
7. Bad Boys = Si roa balangs
8. Sleepless in Seattle = Markombur di radio, diaboi modom?
9. Lost in Space = Dibondut banua holling
10. X-Men = Pantang so bilak

11. X-Men 2 = Tong sai pabilak-bilakhon
12. The Brotherhood of War = Manat Mardongan-tubu
13. Paycheck = Bayar habis panen ma i, bah!
14. Independence Day = Agustusan
15. The Day After Tomorrow = Haduan
16. Die Another Day = Ai hatop nai ho mate ompung, dang boi painteonmu minggu naro? nga panen hita disi..
17. Home Alone = Nunga lao tu balian natorasna
18. Silence of the Lamb = Hambing Parhohom
19. Planet of the Apes = Huta ni angka Bodat
20. Gone in Sixty Second = Marimpot-impot

21. Original Sin = Na taboi puang … (hush)
22. Freddy vs Jason = Peredi VS Jekson
23. Air Bud = Panangga (biang)
24. How To Lose A Girl in 10 Days = Nunga ditopari haletna
25. Lord Of The Ring = Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup; tulang ni anak, dohot tulang ni boru, ido kan ? )
26. Deep Impact = Hansit naii
27. Million Dollar Baby = Ai sajuta arga ni Babi saonari? (Butetttt, nga dilean ho mangan babi ???? )
28. Blackhawk Down = Lali lao manangkup manuk
29. Saving Private Ryan = (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar ‘rian’. Na adong Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, Poltak … dll.)
30. Dumb and Dumber = Lam Loakon

31. The Collateral = Si Padalan Hepeng (rentenir nih yee)
32. Braveheart = Parate-ate
33. Payback = Garar Utangmu
34. My Greek Big Fat Wedding = Muli sikobol-kobol
35. I Know What You Did Last Summer = Datu
36. I Still Know What You Did Last Summer = Berarti Datu Bolon Ibana
37. Cold Mountain = Dolok Sanggul
38. Drunken Master = Parmitu
39. Any Given Sunday=Marminggu Hamu Fuang
40. The Gift = Durung-Durung

41. Run Away Jury = Martabuni Ho Tulang
42. Step Mom= Inang Panirang-Nirangan
43. Lion King = Sisingamangaraja
44. Beautiful Mind = Nipi Nama i
45. Mr. & Mrs. Smith = Si Semit Dohot Oroan na
46. Rest In Peace = Dison Do Maradian

Balada ni si Butet
Alkisah, Butet si Gadis Cantik dari Batak akan menghadapi ujian semester. Agar bisa konsentrasi, dia memutuskan menyepi ke villanya di Puncak. Setelah keluar dari jalan tol Jagorawi, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu Cipanas.
Beberapa pemuda tanggung langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah tanpa menanggapi. Sepiring Naibaho yang hangat dengan ikan gurame yang dibakar dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan semangkok Nababan yang hijau segar.
Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan kesana ber-bukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan “Tanjung“. Beberapa diantaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.
Begitu sampai di villa, Butet membuka pintu mobil, wow … Siregar sekali hawanya, berbeda dengan Jakarta yang Panggabean penuh asap. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan. Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang.
Mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukan hanyalah bekas kolam renang yang akan di-Hutahuruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun teh saja. Sedang asik- asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar “Sinaga….. ! “, teriaknya sambil lari Sitanggang langgang. Celakanya dia malah terpeleset dari Tobing yg tinggi sehingga bibirnya Sihombing. Kasihan sekali, Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan.
Tetapi, dia lantas ingat bahwa sebagai orang Batak pantang untuk menangis. Dia harus Togar! Maka, dengan menguatkan, dia pergi ke Puskesmas setempat untuk melakukan Panjaitan terhadap bibirnya yang Sihombing itu. Mantri Puskesmas tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya.
“Hmmm, ongkosnya Pangaribuan“, kata mantri setelah memeriksa sejenak.
“Itu terlalu mahal …. bagaimana kalau Napitupulu saja … “, tawar si butet.
“Napitupulu terlalu murah, mengertilah saya sebagai PNS Pandapotan saya khan kecil sekali, ekonomi keluarga saya sudah sangat Ginting sekali”, kata mantri memelas
“Jangan begitulah, masa tidak Siahaan melihat bibir saya begini?”.
“Baiklah, tapi Panjaitan-nya pakai jarum Sitompul saja”, sahut mantri mulai agak kesal
“Cepatlah …. ! aku sudah hampir Munthe, yach ….. Saragih sedikit tidak apa-apalah, dari pada bibirku Sihombing terus”
Malamnya, ketika sedang asik belajar sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Wah, Butet bonar-bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di pintunya berbunyi “Poltak….! ” keras sekali. “Ada Situmorang ……! “, “Sialan, cuma kucing …. “, desahnya lega. Dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen.
Selesai belajar, Butet menyalakan televisi. Ternyata ada siaran Discovery Channel yang menampilkan Hutabarat Amazon di Kanada yg terkenal itu serta Simamora gajah purba yang berbulu lebat. Saat commercial break, muncul lagu nasional RI yang terkenal dengan seruannya “Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar ! “.
Keesokan harinya, Butet kembali ke Jakarta dan langsung pergi ke kampus. Di depan ruang ujian dia membaca tulisan “Harahap tenang, ada ujian “. Butet bergumam “Ah, aku khan Marpaung, boleh ribut dong!”.

SEKILAS DAIRI

Kabupaten Dairi adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatra Utara. Dairi memiliki luas wilayah 3.146,1 km² dan populasi 350.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Sidikalang.
Kabupaten ini kemudian dimekarkan menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dairi sebagai kabupaten induk dan Kabupaten Pakpak Bharat dengan dasar hukum Undang Undang Nomor 9 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Humbang Hasundutan yang dikelurkan pada tanggal 25 Februari 2003.

SEJARAH

Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang usianya cukup tua. Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber, pemerintahan Kabupaten Dairi telah ada sebelum masa penjajahan Belanda antara tahun 1852 sampai tahun 1942.
Sejarah berdirinya pemerintah Kabupaten Dairi ketika pada masa agresi militer I Belanda yang menguasai Sumatera Timur sehingga untuk menyelenggarakan pemerintahan serta perang melawan agresi Belanda, Residen Tapanuli ketika itu Dr Ferdinand Lumbantobing selaku Gubernur Militer Sumatera Timur dan Tapanuli, menetapkan Keresidenan Tapanuli menjadi 4 (empat) kabupaten masing-masing Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang dan Kabupaten Silindung. Berdasarkan surat Residen Tapanuli Nomor 1256 tanggal 12 September 1947 ditetapkan Paulus Manurung sebagai Bupati pertama Kabupaten Dairi yang berkedudukan di Sidikalang, terhitung mulai 1 Oktober 1947.
Berdasarkan tanggal ketetapan bupati pertama itulah yang akhirnya dasar kesepakatan antara pemerintah dan masyarakat ditetapkan sebagai “Hari Jadi Kabupaten Dairi” melalui Keputusan DPRD Kabupaten Dairi Nomor 4/K-DPRD/1997 tanggal 29 April 1977.
Pada awal berdirinya Kabupaten Dairi terbagi atas 3 kewedanan dan 6 kecamatan. Kewedanan tersebut yaitu, kewedanan Sidikalang yang dibagi atas 2 kecamatan masing-masing Kecamatan Sidikalang dan Kecamatan Sumbul. Selanjutnya kewedanan Simsim dibagi atas 2 kecamatan yaitu Kecamatan Kerajaan dan Kecamatan Salak, serta kewedanan Karo Kampung yang dibagi atas 2 kecamatan masing-masing Kecamatan Tiga Lingga dan Kecamatan Tanah Pinem.
Memasuki usianya yang ke-60 Kabupaten Dairi yang terkenal dengan “Kopi Sidikalang” hingga Desember 2005 meliputi 13 kecamatan.

KECAMATAN

Sidikalang beribukota Sidikalang
Berampu beribukota
Lae Parira beribukota Lae Parira
Gunung Sitember beribukota
Parbuluan beribukota
Pegagan Hilir beribukota
Siempat Nempu beribukota
Siempat Nempu Hilir beribukota
Siempat Nempu Hulu beribukota
Silima Pungga-Pungga beribukota
Sumbul beribukota
Tanah Pinem beribukota
Tigalingga beribukota

POTENSI DAIRI

Kabupaten Dairi memiliki potensi alam yang sangat kaya, seperti keindahan alam daerahnya, hasil pertanian yang beraneka ragam dan melimpah, serta beberapa daerah memiliki kandungan bahan tambang yang sangat berharga.
Sesuai dengan keadaan alam dan topografinya sektor pertanian berperan dominan dalam mendukung perekonomian masyarakat.

PERTANIAN
Secara umum,masyarakat Dairi merupakan petani. Hal ini didukung oleh keadaan tanah yang sangat subur.Hasil pertanian yang sangat terkenal dari Sidikalang adalah kopi.Hampir semua orang di Indonesia dan di Sumatera Utara pada khususnya sudah mengenal Bubuk Kopi Sidikalang.Kopi Sidikalang terkenal karena rasanya yang khas yang benar-benar berasa “kopi” ketimbang kopi-kopi pabrik yang lebih berasa “manis”.
Masih banyak hasil pertanian lain yang dihasilkan di daerah ini. Seperti padi , gambir “kemiri” ,palawija, buah-buahan, dan lainnya. Tetapi yang paling tenar tetaplah kopi, Kopi Sidikalang.

OBJEK WISATA

Untuk objek wisata, ada sangat banyak di Dairi.Terutama objek wisata alam.Berikut adalah objek wisata alam di Dairi.
Taman Wisata Iman Letter S Kawasan Sidikalang
Taman Wisata Iman berada di atas Perbukitan Sitinjo, dan merupakan satu-satunya tempat wisata di Indonesia yang memadukan unsur religius dan keindahan alam. Di sana terdapat lima tempat ibadah berdasarkan agama yang diakui di Indonesia,
dan di area seluas 13 hektare tersebut juga ada miniatur peninggalan sejarah masing-masing agama yang layak dikunjungi. Di Taman Wisata Iman juga terdapat wisata sungai dan alam serta penginapan bagi pengunjung yang ingin bermalam disana. Wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba bisa melanjutkan perjalanannya berwisata di Taman Wisata Iman karena jaraknya hanya satu jam perjalanan
Taman Wisata Iman (TWI) di Letter S merupakan cerminan kerukuran dan ketaatan masyarakat Dairi memeluk agamanya, menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi wisatawan untuk berkunjung ke kawasan wisata ini. Jika dibandingkan dengan Kabupaten lain di Sumatera Utara, maka hanya di Kabupaten Dairi diperoleh pendekatan cerminan seperti ini.Untuk sekarang ini, pemerintah Kabupaten Dairi sedang gencar-gencarnya mengadakan perbaikan di lokasi ini.Diharapkan nantinya TWI akan menjadi cerminan Dairi yang melambangkan kerukunan umat beragama di Dairi. Sepertinya TWI menjadi prospek utama yang dikembangkan oleh pemerintah Dairi. Promosi terhadap TWI juga sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Pemda setempat.

Lae Pondom Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Lae Pondom merupakan tempat yang ideal untuk memandang Danau Toba yang persis terletak di atas desa Silalahi. Hutan, kupu-kupu, Imbo (sebangsa siamang berwarna hitam dengan suara nyaring dan khas) dapat dinikmati oleh wisatawan.
Silalahi Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Desa Silalahi persis berada ditepi Danau Toba dan wisatawan dapat menikmati Danau Toba pada lokasi ini antara lain : memancing, olahraga air, mandi-mandi/ berenang, berperahu, berselancar. Secara budaya desa ini diyakini sebagai asal muasal Marga Silalahi. Uniknya lagi bahwa pada bagian inilah merupakan perairan terdalam dari Danau Toba.
Danau Toba Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Tidak jauh dari lokasi Lae Pondom wisatawan dapat mengunjungi Dolok Simaddar, dimana dari lokasi ini Danau Toba terlihat lebih jelas dan termasuk hutan yang disebelahnya, suatu pemandangan panorama yang sangat indah.
PLTA Lau Renun Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Bukit Simandar Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Tidak jauh dari lokasi Lae Pondom wisatawan dapat mengunjungi Dolok Simaddar, dimana dari lokasi ini Danau Toba terlihat lebih jelas dan termasuk hutan yang disebelahnya, suatu pemandangan panorama yang sangat indah.
Ada beberapa “cerita” menarik yang kejadiannya di perladangan masyarakat Desa Silalahi persisnya dikaki bukit Simaddar bahwa dimalam hari dari arah hutan terlihat barisan obor sangat jelas dari Dolok Simaddar, yang diyakini sebagi suatu kegiatan “mahluk halus”. Disamping itu ada juga “cerita/ pengakuan masyarakat” tentang penomena alam yang tidak biasa terjadi berupa hujan pasir melanda Desa Silalahi selama 3 hari setiap tahunnya, tetapi sayangnya tim investigasi belum mampu menguak waktu terjadinya penomena alam tersebut.
Selain daripada itu masih terdapat “ cerita “ tentang kisah perpindahan/ terangkatnya air danau toba dalam jumlah besar kearah hutan di kaki bukit Simaddar yang terjadi setiap tahun, dengan waktu yang belum dapat diidentifikasi tetapi terjadi setiap tahunnya, menurut pengakuan responden.
Lae Pandaroh Kawasan Sidikalang
Danau Sicike-cike Kawasan Sidikalang
Lokasi objek ekowisata Danau Sicike-cike berada pada wilayah Desa Bangun, Kecamatan Parbuluan, dengan jarak 18 km dari Sidikalang/ Ibukota Kabupaten, merupakan lokasi wisata dengan panorama keindahan hutan yang asri dan memiliki beraneka tumbuhan anggrek serta fauna berupa bebek hutan yang abadi hidup disana. Tanaman Anggrek yang banyak dijumpai disekitar danau Sicike-cike sangat potensial menjadi maskot objek wisata di kawasan ini. Namun sebagian diantaranya masih harus ditempuh dengan jalan kaki dan ini berpeluang menarik bagi wisatawan lintas ala hutan.
“Kisah/ legenda” terjadinya Danau Sicike-cike. (menurut penuturan Bangun/ responden). Jauh sebelum kedatangan Belanda menjajah wilayah ini, kawasan danau sicike-cike telah dihuni oleh 7 marga/ Sipitu marga dari suku Pak-pak : Bintang, Angkat, Capah, Kudadiri, Ujung, Sinamo dan Bako. Terjadinya Danau Sicike-cike diawali dari kemurkaan salah seorang ayah yang berasal dari ketujuh marga kepada anaknya, karena menyantap makanan yang seharusnya dia bawa dari rumah untuk disampaikan kepada orangtuanya yang bekerja di sawah/ perladangan. Sang ayah menendang tempat makanan yang telah kosong tersebut dan mengumpat sang anak dengan murkanya. Tidak lama berselang setelah kejadian itu secara tiba-tiba datang air bah dan menenggelamkan daerah persawahan tersebut termasuk penduduknya yang tidak sempat menyelematkan diri. Genangan air semakin dalam dan luas yang akhirnya menjadi Danau Sicike-cike.

Puncak Sidiangkat Kawasan Sidikalang
KM 11 Silumboya Kawasan Sidikalang
Lokasi objek ekowisata Panorama Indah disekitar Desa Silumboya, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, dengan jarak 11 km dari Sidikalang, memiliki keunikan utama adalah berupa pemandangan alam yang indah. Wisatawan dapat melakukan camping dan wisata geologi/ vulkanik.
Kupu-kupu di lokasi Puncak nan Tampuk Mas, merupakan suatu potensi yang besar bagi upaya menarik kunjungan wisatawan ke wilayah ini. Demikian pula halnya dengan tanaman anggrek di objek lokasi ekowisata Danau Sicike-cike.
Liang Pamah Kawasan Tanah Pinem
Lokasi objek ekowisata Liang Pamah merupakan gua yang mengandung nilai sejarah berkaitan dengan perjuangan mayarakat Dairi melawan penjajahan Belanda. Konon dalam “cerita” masyarakat bahwa pada masa perjuangan mengusir penjajah Belanda, ada kalanya penduduk harus mengungsi. Salah satu lokasi mengungsi adalah gua liang pamah tersebut dengan kemapuan unik berupa daya tampungnya yang mampu menampung pengungsi seberapapun jumlahnya.
Panorama Alam Kepawa Kawasan Tanah Pinem
Lokasi objek ekowisata Danau Kempawa, termasuk wilayah Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem, dengan jarak 48 km dari Sidikalang. Daya tarik utama adalah fauna berupa ikan emas, nila dan lele yang oleh masyarakat setempat dinilai memiliki citrarasa yang enak. Ikutan daya tarik lainnya bagi wisatawan lainnya adalah kegiatan masyarakat dalam budidaya tanaman tembakau dan vanili. Karenanya objek ini berpeluang untuk dikembangkan menjadi objek agrowisata, sekaligus sebagai objek ekowisata dengan fokus memperbaiki hutan dan sungai yang ada di sekitar objek tersebut. Namun sayangnya belum tersedia fasilitas pendukung untuk kepariwisataan, seperti ketidak ketersediaan restaurant dan penginapan bahkan saung sebagai tempat menikmati alam serta terbatasnya sarana komunikasi dan angkutan.
Danau Paya Kuda Kawasan Tanam Pinem

Panorama Sinar Pagi Kawasan Tanah Pinem
Liang Kompor Kawasan Tinah Pinem
Tank Peninggalan Penjajah Belanda Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek wisata Tank Peninggalan Penjajahan Belanda, termasuk desa Tiga Lingga Kecamatan Tiga Lingga, merupakan lokasi yang baik untuk menghayati nilai perjuangan masyarakat Dairi mengusir penjajah Belanda.
Gua Kendet Dan Patung Bersejarah Di Kawasan Tiga Lingga
Gua kendet liang memiliki patung batu bersejarah dapat menjadi daya pikat wisatawan bila mampu diidentifikasi dengan kaidah-kaidah keilmuan kepurbakalaan. Bahkan pada akhirnya dapat menjadi maskot wisata bagai kawasan ekowisata Tanah Pinem.

Air Terjun Lae Belulus Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek ekowisata Air Terjun Lae Belulus, termasuk wilayah Desa Juma Gerat, Kecamatan Tiga Lingga, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Keunikan utama adalah fauna berupa ikan emas, nila dan lele. Ikutan keunikan yang dapat dinikmati oleh wisatawan adalah tanaman tembakau dan vanili. Dapat dicapai dengan kenderaan roda empat minibus. Belum tersedia fasilitas pendukung untuk parawisata, seperti ketidak ketersediaan restaurant dan penginapan serta lainnya.
Jejak Tapak Kaki Raksasa Di Simuhur Tiga Lingga
Objek wisata Simuhur, memiliki daya tarik wisata berupa jejak tapak kaki manusia raksasa yang diyakini pernah tinggal dan hidup diwilayah ini. Objek ini akan menjadi sangat menarik jika dilakukan penelitian sejarah perihal jejak tapak kaki raksasa tersebut.

Gua Lau Iput Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek ekowisata Gua Lau Ipuh, termasuk wilayah Desa Lau Ipuh, Kecamatan Tiga Lingga, dengan jarak 51 km dari Sidikalang. Keunikan utama adalah fauna berupa burung layang-layang/ walet. Ikutan keunikan yang dapat dinikmati sekaligus dapat menjdai menakutkan bagi wisatawan adalah ular kobra yang berekosistem di wilayah ini. Faktor yang dapat menjadi penghambat pengembangan objek ini adalah sarana perhubungan. Jalan memang cukup baik tetapi jaraknya cukup jauh. Disamping jalan menuju gua masih alami, fasilitas pendukung wiasatapun terasa sangat minim. Dapat dikembangkan menjadi objek penelitian fauna seperti ular dan burung.
Air Terjun Lae Bas Bas Di Kawasan Tiga Lingga
Lae Hitam Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Lae Hitam, termasuk wilayah Desa Lae Hitam, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 83 km dari Sidikalang. Daya tarik utamanya berupa pesona alam yang indah, dengan keunikan ikutan adalah sungainya yang berwarna kehitaman, mencerminkan suatu misteri.
Air Terjun Lae Maski Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Air Terjun Lae Baski, termasuk wilayah Desa Pardomuan, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Keindahan utama berupa pesona alam dan air terjun yang bertingkat-tingkat.
Lae Markelang Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Panorama Indah, termasuk wilayah Desa Lae Markelang, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Daya tarik objek wisata adalah pesona alam yang sangat indah dengan hijaunya hutan dan udara sejuknya. Merupakan lokasi yang ideal untuk melakukan kegiatan camping dan wisata alam geologi. Keindahan panorama ini sangat kuat pengaruh dari KEL.
Mata Air Bersjarah Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek ekowisata Mata Air Bersjarah, termasuk wilayah Desa Bonian, Kecamatan Silima Pungga-pungga, dengan jarak 45 km dari Sidikalang. Lokasi yang baik untuk bercamping dan sekalgus menikmati pesona budaya. Namun demikian wisatawan yang datang hanya masyarakat umum dari dalam Kabupaten Dairi sendiri. Menurut penuturan masyarakat setempat bahwa mata air tersebut muncul setelah Raja Sisingamaraja menancapkan tongkatnya pada tempat ini yang serta merta muncul mata air. Masyarakat meyakini bahwa air dari mata air bersejarah ini dapat menjadi penawar berbagai macam penyakit dan penawar perasaan yang sedang gundah.
Mejan Marga Sibero Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek ekowisata Mejan Marga Cibro, termasuk wilayah Desa Tuntung Batu, Kecamatan Silima Pungga-pungga, dengan jarak 43 km dari Sidikalang. Keunikan utama yang dapat dinikmati oleh wisatawan adalah budaya, berupa keberadaan Batu Perjanjian Marga Cibro dan Batu Tunggung Ni Kuta. Kisah tentang Batu Tunggung Ni Kuta/ Pertahanan Desa terletak di bagian gerbang desa Tuntung Batu (dahulu)1 akan memberikan tanda dengan bunyi berdesing apabila ada sesuatu yang mengancam penduduk desa, termasuk kemungkinan serangan penyakit menular. Lokasi Desa Tuntung Batu yang sekarang gerada sekitar 400 m kearah utara dari lokasi lama. Sementara itu kisah tentang Batu Perjanjian Marga Cibro merupakan sumber berkah bagi Marga Cibro, sehingga Marga Cibro dahulunya mengelilingi batu tersebut untuk musyawarah dan mufakat dalam berbagai urusan kehidupan sosial budaya. Sarana jalan cukup baik. Wisatawan dapat melakukan kegiatan kemah/ camping di lokasi objek dengan pemandangan yang indah.
Sebagai tempat kunjungan yang baik bagi masyarakat bermarga cibro/ sibero atau yang memiliki ikatan darah dengan marga cibro/ sibero. Menurut penuturan responden bahwa desa Tuntung Batu merupakan desa tertua dari semua desa yang ada di Kecamatan Silima Pungga-pungga dan sekaligus merupakan tempat asal Marga Cibro yang menjadi marga Tarigan Sibero di masyarakat suku Karo. Objek wisata ini sangat potensial dikembangkan menjadi objek wisata budaya, yang tentunya perlu didahului dengan penelitian para ahli sejarah.
Disamping itu pada lokasi ini juga masih ditemui pohon durian yang berumur lebih dari 200 tahun, dan merupakan induk banyak pohon durian yang telah berkembang di sekitar desa dan ke desa-desa tetangga lainnya. Sebagai salah satu contoh adalah Kebun nanas yang terpadu dengan kebun durian di Sempung Lumban Sihite kurang lebih 20 km dari Sidikalang, yang telah menjadi lokasi kunjungan wisata untuk menikmati panorama persawahan dengan latar belakang Kawasan Ekosistem Leuser sambil menikmati buah Nanas (tersedia setiap saat) dan buah Durian pada musimnya.
Menurut pemilik kebun bahwa bibit Tanaman Durian tersebut, berasal dari Desa Parongil sekitar 10 tahun yang lalu dan jika Desa Tungtung Batu merupakan desa tertua dan pohon durian yang terdapat disana sebagai durian yang sudah sangat tua juga maka tidak tertutup kemungkinan bahwa Durian di Sempung Lumban Sihite nenek moyangnya adalah dari pohon durian di Desa Tungtung Batu juga

DAERAH PERTAMBANGAN

Di Dairi telah ditemukan satu daerah pertambangan yang terletak di Dusun Sopokomil kec.Silima Pungga-Pungga.Di daerah ini ditemukan Timah Hitam (Pb) dan Seng (Zn) yang diperkirakan jumlahnya sangat banyak.Potensinya sekitar 7,7 juta metric ton bijihTimah Hitam (Pb) dan Seng (Zn) yang diperkirakan bernilai triliunan rupiah. Perusahaan yang mengelolanya adalah PT Dairi Prima Mineral (DPM).
Dari data yang diperoleh, PT DPM memiliki kontrak sejak 19 Februari 1998 dan telah merampungkan explorasi serta pembangunan sarana dan prasarana sedang dilakukan sampai sekarang. Sedangkan proses exploitasinya (penggalian) masih belum dilakukan.Pembangunan sarana dan prasarana yang sedang dilakukan antara lain membangun kurang lebih 4,7 Km jalan ring road Sidikalang yang bakal dilalui dalam pengangkutan bahan tambang ke pelabuhan Kuala Tanjung serta peningkatan jalan Sidikalang – Parongil (23 Km) menjadi 6 meter dan pembuatan parit jalan.Pembuatan jalan dan ringroad ini memakan dana puluhan miliar rupiah dan pemborongnya adalah pengusaha local.Jadi bisa dibayangkan lapangan kerja yang dihasilkan dengan adanya daerah tambang ini.

Disadur dari berbagai Sumbe

SEKILAS DAIRI

Kabupaten Dairi adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatra Utara. Dairi memiliki luas wilayah 3.146,1 km² dan populasi 350.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Sidikalang.
Kabupaten ini kemudian dimekarkan menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dairi sebagai kabupaten induk dan Kabupaten Pakpak Bharat dengan dasar hukum Undang Undang Nomor 9 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Humbang Hasundutan yang dikelurkan pada tanggal 25 Februari 2003.

SEJARAH

Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang usianya cukup tua. Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber, pemerintahan Kabupaten Dairi telah ada sebelum masa penjajahan Belanda antara tahun 1852 sampai tahun 1942.
Sejarah berdirinya pemerintah Kabupaten Dairi ketika pada masa agresi militer I Belanda yang menguasai Sumatera Timur sehingga untuk menyelenggarakan pemerintahan serta perang melawan agresi Belanda, Residen Tapanuli ketika itu Dr Ferdinand Lumbantobing selaku Gubernur Militer Sumatera Timur dan Tapanuli, menetapkan Keresidenan Tapanuli menjadi 4 (empat) kabupaten masing-masing Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang dan Kabupaten Silindung. Berdasarkan surat Residen Tapanuli Nomor 1256 tanggal 12 September 1947 ditetapkan Paulus Manurung sebagai Bupati pertama Kabupaten Dairi yang berkedudukan di Sidikalang, terhitung mulai 1 Oktober 1947.
Berdasarkan tanggal ketetapan bupati pertama itulah yang akhirnya dasar kesepakatan antara pemerintah dan masyarakat ditetapkan sebagai “Hari Jadi Kabupaten Dairi” melalui Keputusan DPRD Kabupaten Dairi Nomor 4/K-DPRD/1997 tanggal 29 April 1977.
Pada awal berdirinya Kabupaten Dairi terbagi atas 3 kewedanan dan 6 kecamatan. Kewedanan tersebut yaitu, kewedanan Sidikalang yang dibagi atas 2 kecamatan masing-masing Kecamatan Sidikalang dan Kecamatan Sumbul. Selanjutnya kewedanan Simsim dibagi atas 2 kecamatan yaitu Kecamatan Kerajaan dan Kecamatan Salak, serta kewedanan Karo Kampung yang dibagi atas 2 kecamatan masing-masing Kecamatan Tiga Lingga dan Kecamatan Tanah Pinem.
Memasuki usianya yang ke-60 Kabupaten Dairi yang terkenal dengan “Kopi Sidikalang” hingga Desember 2005 meliputi 13 kecamatan.

KECAMATAN

Sidikalang beribukota Sidikalang
Berampu beribukota
Lae Parira beribukota Lae Parira
Gunung Sitember beribukota
Parbuluan beribukota
Pegagan Hilir beribukota
Siempat Nempu beribukota
Siempat Nempu Hilir beribukota
Siempat Nempu Hulu beribukota
Silima Pungga-Pungga beribukota
Sumbul beribukota
Tanah Pinem beribukota
Tigalingga beribukota

POTENSI DAIRI

Kabupaten Dairi memiliki potensi alam yang sangat kaya, seperti keindahan alam daerahnya, hasil pertanian yang beraneka ragam dan melimpah, serta beberapa daerah memiliki kandungan bahan tambang yang sangat berharga.
Sesuai dengan keadaan alam dan topografinya sektor pertanian berperan dominan dalam mendukung perekonomian masyarakat.

PERTANIAN
Secara umum,masyarakat Dairi merupakan petani. Hal ini didukung oleh keadaan tanah yang sangat subur.Hasil pertanian yang sangat terkenal dari Sidikalang adalah kopi.Hampir semua orang di Indonesia dan di Sumatera Utara pada khususnya sudah mengenal Bubuk Kopi Sidikalang.Kopi Sidikalang terkenal karena rasanya yang khas yang benar-benar berasa “kopi” ketimbang kopi-kopi pabrik yang lebih berasa “manis”.
Masih banyak hasil pertanian lain yang dihasilkan di daerah ini. Seperti padi , gambir “kemiri” ,palawija, buah-buahan, dan lainnya. Tetapi yang paling tenar tetaplah kopi, Kopi Sidikalang.

OBJEK WISATA

Untuk objek wisata, ada sangat banyak di Dairi.Terutama objek wisata alam.Berikut adalah objek wisata alam di Dairi.
Taman Wisata Iman Letter S Kawasan Sidikalang
Taman Wisata Iman berada di atas Perbukitan Sitinjo, dan merupakan satu-satunya tempat wisata di Indonesia yang memadukan unsur religius dan keindahan alam. Di sana terdapat lima tempat ibadah berdasarkan agama yang diakui di Indonesia,
dan di area seluas 13 hektare tersebut juga ada miniatur peninggalan sejarah masing-masing agama yang layak dikunjungi. Di Taman Wisata Iman juga terdapat wisata sungai dan alam serta penginapan bagi pengunjung yang ingin bermalam disana. Wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba bisa melanjutkan perjalanannya berwisata di Taman Wisata Iman karena jaraknya hanya satu jam perjalanan
Taman Wisata Iman (TWI) di Letter S merupakan cerminan kerukuran dan ketaatan masyarakat Dairi memeluk agamanya, menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi wisatawan untuk berkunjung ke kawasan wisata ini. Jika dibandingkan dengan Kabupaten lain di Sumatera Utara, maka hanya di Kabupaten Dairi diperoleh pendekatan cerminan seperti ini.Untuk sekarang ini, pemerintah Kabupaten Dairi sedang gencar-gencarnya mengadakan perbaikan di lokasi ini.Diharapkan nantinya TWI akan menjadi cerminan Dairi yang melambangkan kerukunan umat beragama di Dairi. Sepertinya TWI menjadi prospek utama yang dikembangkan oleh pemerintah Dairi. Promosi terhadap TWI juga sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Pemda setempat.

Lae Pondom Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Lae Pondom merupakan tempat yang ideal untuk memandang Danau Toba yang persis terletak di atas desa Silalahi. Hutan, kupu-kupu, Imbo (sebangsa siamang berwarna hitam dengan suara nyaring dan khas) dapat dinikmati oleh wisatawan.
Silalahi Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Desa Silalahi persis berada ditepi Danau Toba dan wisatawan dapat menikmati Danau Toba pada lokasi ini antara lain : memancing, olahraga air, mandi-mandi/ berenang, berperahu, berselancar. Secara budaya desa ini diyakini sebagai asal muasal Marga Silalahi. Uniknya lagi bahwa pada bagian inilah merupakan perairan terdalam dari Danau Toba.
Danau Toba Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Tidak jauh dari lokasi Lae Pondom wisatawan dapat mengunjungi Dolok Simaddar, dimana dari lokasi ini Danau Toba terlihat lebih jelas dan termasuk hutan yang disebelahnya, suatu pemandangan panorama yang sangat indah.
PLTA Lau Renun Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Bukit Simandar Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Tidak jauh dari lokasi Lae Pondom wisatawan dapat mengunjungi Dolok Simaddar, dimana dari lokasi ini Danau Toba terlihat lebih jelas dan termasuk hutan yang disebelahnya, suatu pemandangan panorama yang sangat indah.
Ada beberapa “cerita” menarik yang kejadiannya di perladangan masyarakat Desa Silalahi persisnya dikaki bukit Simaddar bahwa dimalam hari dari arah hutan terlihat barisan obor sangat jelas dari Dolok Simaddar, yang diyakini sebagi suatu kegiatan “mahluk halus”. Disamping itu ada juga “cerita/ pengakuan masyarakat” tentang penomena alam yang tidak biasa terjadi berupa hujan pasir melanda Desa Silalahi selama 3 hari setiap tahunnya, tetapi sayangnya tim investigasi belum mampu menguak waktu terjadinya penomena alam tersebut.
Selain daripada itu masih terdapat “ cerita “ tentang kisah perpindahan/ terangkatnya air danau toba dalam jumlah besar kearah hutan di kaki bukit Simaddar yang terjadi setiap tahun, dengan waktu yang belum dapat diidentifikasi tetapi terjadi setiap tahunnya, menurut pengakuan responden.
Lae Pandaroh Kawasan Sidikalang
Danau Sicike-cike Kawasan Sidikalang
Lokasi objek ekowisata Danau Sicike-cike berada pada wilayah Desa Bangun, Kecamatan Parbuluan, dengan jarak 18 km dari Sidikalang/ Ibukota Kabupaten, merupakan lokasi wisata dengan panorama keindahan hutan yang asri dan memiliki beraneka tumbuhan anggrek serta fauna berupa bebek hutan yang abadi hidup disana. Tanaman Anggrek yang banyak dijumpai disekitar danau Sicike-cike sangat potensial menjadi maskot objek wisata di kawasan ini. Namun sebagian diantaranya masih harus ditempuh dengan jalan kaki dan ini berpeluang menarik bagi wisatawan lintas ala hutan.
“Kisah/ legenda” terjadinya Danau Sicike-cike. (menurut penuturan Bangun/ responden). Jauh sebelum kedatangan Belanda menjajah wilayah ini, kawasan danau sicike-cike telah dihuni oleh 7 marga/ Sipitu marga dari suku Pak-pak : Bintang, Angkat, Capah, Kudadiri, Ujung, Sinamo dan Bako. Terjadinya Danau Sicike-cike diawali dari kemurkaan salah seorang ayah yang berasal dari ketujuh marga kepada anaknya, karena menyantap makanan yang seharusnya dia bawa dari rumah untuk disampaikan kepada orangtuanya yang bekerja di sawah/ perladangan. Sang ayah menendang tempat makanan yang telah kosong tersebut dan mengumpat sang anak dengan murkanya. Tidak lama berselang setelah kejadian itu secara tiba-tiba datang air bah dan menenggelamkan daerah persawahan tersebut termasuk penduduknya yang tidak sempat menyelematkan diri. Genangan air semakin dalam dan luas yang akhirnya menjadi Danau Sicike-cike.

Puncak Sidiangkat Kawasan Sidikalang
KM 11 Silumboya Kawasan Sidikalang
Lokasi objek ekowisata Panorama Indah disekitar Desa Silumboya, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, dengan jarak 11 km dari Sidikalang, memiliki keunikan utama adalah berupa pemandangan alam yang indah. Wisatawan dapat melakukan camping dan wisata geologi/ vulkanik.
Kupu-kupu di lokasi Puncak nan Tampuk Mas, merupakan suatu potensi yang besar bagi upaya menarik kunjungan wisatawan ke wilayah ini. Demikian pula halnya dengan tanaman anggrek di objek lokasi ekowisata Danau Sicike-cike.
Liang Pamah Kawasan Tanah Pinem
Lokasi objek ekowisata Liang Pamah merupakan gua yang mengandung nilai sejarah berkaitan dengan perjuangan mayarakat Dairi melawan penjajahan Belanda. Konon dalam “cerita” masyarakat bahwa pada masa perjuangan mengusir penjajah Belanda, ada kalanya penduduk harus mengungsi. Salah satu lokasi mengungsi adalah gua liang pamah tersebut dengan kemapuan unik berupa daya tampungnya yang mampu menampung pengungsi seberapapun jumlahnya.
Panorama Alam Kepawa Kawasan Tanah Pinem
Lokasi objek ekowisata Danau Kempawa, termasuk wilayah Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem, dengan jarak 48 km dari Sidikalang. Daya tarik utama adalah fauna berupa ikan emas, nila dan lele yang oleh masyarakat setempat dinilai memiliki citrarasa yang enak. Ikutan daya tarik lainnya bagi wisatawan lainnya adalah kegiatan masyarakat dalam budidaya tanaman tembakau dan vanili. Karenanya objek ini berpeluang untuk dikembangkan menjadi objek agrowisata, sekaligus sebagai objek ekowisata dengan fokus memperbaiki hutan dan sungai yang ada di sekitar objek tersebut. Namun sayangnya belum tersedia fasilitas pendukung untuk kepariwisataan, seperti ketidak ketersediaan restaurant dan penginapan bahkan saung sebagai tempat menikmati alam serta terbatasnya sarana komunikasi dan angkutan.
Danau Paya Kuda Kawasan Tanam Pinem

Panorama Sinar Pagi Kawasan Tanah Pinem
Liang Kompor Kawasan Tinah Pinem
Tank Peninggalan Penjajah Belanda Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek wisata Tank Peninggalan Penjajahan Belanda, termasuk desa Tiga Lingga Kecamatan Tiga Lingga, merupakan lokasi yang baik untuk menghayati nilai perjuangan masyarakat Dairi mengusir penjajah Belanda.
Gua Kendet Dan Patung Bersejarah Di Kawasan Tiga Lingga
Gua kendet liang memiliki patung batu bersejarah dapat menjadi daya pikat wisatawan bila mampu diidentifikasi dengan kaidah-kaidah keilmuan kepurbakalaan. Bahkan pada akhirnya dapat menjadi maskot wisata bagai kawasan ekowisata Tanah Pinem.

Air Terjun Lae Belulus Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek ekowisata Air Terjun Lae Belulus, termasuk wilayah Desa Juma Gerat, Kecamatan Tiga Lingga, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Keunikan utama adalah fauna berupa ikan emas, nila dan lele. Ikutan keunikan yang dapat dinikmati oleh wisatawan adalah tanaman tembakau dan vanili. Dapat dicapai dengan kenderaan roda empat minibus. Belum tersedia fasilitas pendukung untuk parawisata, seperti ketidak ketersediaan restaurant dan penginapan serta lainnya.
Jejak Tapak Kaki Raksasa Di Simuhur Tiga Lingga
Objek wisata Simuhur, memiliki daya tarik wisata berupa jejak tapak kaki manusia raksasa yang diyakini pernah tinggal dan hidup diwilayah ini. Objek ini akan menjadi sangat menarik jika dilakukan penelitian sejarah perihal jejak tapak kaki raksasa tersebut.

Gua Lau Iput Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek ekowisata Gua Lau Ipuh, termasuk wilayah Desa Lau Ipuh, Kecamatan Tiga Lingga, dengan jarak 51 km dari Sidikalang. Keunikan utama adalah fauna berupa burung layang-layang/ walet. Ikutan keunikan yang dapat dinikmati sekaligus dapat menjdai menakutkan bagi wisatawan adalah ular kobra yang berekosistem di wilayah ini. Faktor yang dapat menjadi penghambat pengembangan objek ini adalah sarana perhubungan. Jalan memang cukup baik tetapi jaraknya cukup jauh. Disamping jalan menuju gua masih alami, fasilitas pendukung wiasatapun terasa sangat minim. Dapat dikembangkan menjadi objek penelitian fauna seperti ular dan burung.
Air Terjun Lae Bas Bas Di Kawasan Tiga Lingga
Lae Hitam Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Lae Hitam, termasuk wilayah Desa Lae Hitam, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 83 km dari Sidikalang. Daya tarik utamanya berupa pesona alam yang indah, dengan keunikan ikutan adalah sungainya yang berwarna kehitaman, mencerminkan suatu misteri.
Air Terjun Lae Maski Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Air Terjun Lae Baski, termasuk wilayah Desa Pardomuan, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Keindahan utama berupa pesona alam dan air terjun yang bertingkat-tingkat.
Lae Markelang Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Panorama Indah, termasuk wilayah Desa Lae Markelang, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Daya tarik objek wisata adalah pesona alam yang sangat indah dengan hijaunya hutan dan udara sejuknya. Merupakan lokasi yang ideal untuk melakukan kegiatan camping dan wisata alam geologi. Keindahan panorama ini sangat kuat pengaruh dari KEL.
Mata Air Bersjarah Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek ekowisata Mata Air Bersjarah, termasuk wilayah Desa Bonian, Kecamatan Silima Pungga-pungga, dengan jarak 45 km dari Sidikalang. Lokasi yang baik untuk bercamping dan sekalgus menikmati pesona budaya. Namun demikian wisatawan yang datang hanya masyarakat umum dari dalam Kabupaten Dairi sendiri. Menurut penuturan masyarakat setempat bahwa mata air tersebut muncul setelah Raja Sisingamaraja menancapkan tongkatnya pada tempat ini yang serta merta muncul mata air. Masyarakat meyakini bahwa air dari mata air bersejarah ini dapat menjadi penawar berbagai macam penyakit dan penawar perasaan yang sedang gundah.
Mejan Marga Sibero Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek ekowisata Mejan Marga Cibro, termasuk wilayah Desa Tuntung Batu, Kecamatan Silima Pungga-pungga, dengan jarak 43 km dari Sidikalang. Keunikan utama yang dapat dinikmati oleh wisatawan adalah budaya, berupa keberadaan Batu Perjanjian Marga Cibro dan Batu Tunggung Ni Kuta. Kisah tentang Batu Tunggung Ni Kuta/ Pertahanan Desa terletak di bagian gerbang desa Tuntung Batu (dahulu)1 akan memberikan tanda dengan bunyi berdesing apabila ada sesuatu yang mengancam penduduk desa, termasuk kemungkinan serangan penyakit menular. Lokasi Desa Tuntung Batu yang sekarang gerada sekitar 400 m kearah utara dari lokasi lama. Sementara itu kisah tentang Batu Perjanjian Marga Cibro merupakan sumber berkah bagi Marga Cibro, sehingga Marga Cibro dahulunya mengelilingi batu tersebut untuk musyawarah dan mufakat dalam berbagai urusan kehidupan sosial budaya. Sarana jalan cukup baik. Wisatawan dapat melakukan kegiatan kemah/ camping di lokasi objek dengan pemandangan yang indah.
Sebagai tempat kunjungan yang baik bagi masyarakat bermarga cibro/ sibero atau yang memiliki ikatan darah dengan marga cibro/ sibero. Menurut penuturan responden bahwa desa Tuntung Batu merupakan desa tertua dari semua desa yang ada di Kecamatan Silima Pungga-pungga dan sekaligus merupakan tempat asal Marga Cibro yang menjadi marga Tarigan Sibero di masyarakat suku Karo. Objek wisata ini sangat potensial dikembangkan menjadi objek wisata budaya, yang tentunya perlu didahului dengan penelitian para ahli sejarah.
Disamping itu pada lokasi ini juga masih ditemui pohon durian yang berumur lebih dari 200 tahun, dan merupakan induk banyak pohon durian yang telah berkembang di sekitar desa dan ke desa-desa tetangga lainnya. Sebagai salah satu contoh adalah Kebun nanas yang terpadu dengan kebun durian di Sempung Lumban Sihite kurang lebih 20 km dari Sidikalang, yang telah menjadi lokasi kunjungan wisata untuk menikmati panorama persawahan dengan latar belakang Kawasan Ekosistem Leuser sambil menikmati buah Nanas (tersedia setiap saat) dan buah Durian pada musimnya.
Menurut pemilik kebun bahwa bibit Tanaman Durian tersebut, berasal dari Desa Parongil sekitar 10 tahun yang lalu dan jika Desa Tungtung Batu merupakan desa tertua dan pohon durian yang terdapat disana sebagai durian yang sudah sangat tua juga maka tidak tertutup kemungkinan bahwa Durian di Sempung Lumban Sihite nenek moyangnya adalah dari pohon durian di Desa Tungtung Batu juga

DAERAH PERTAMBANGAN

Di Dairi telah ditemukan satu daerah pertambangan yang terletak di Dusun Sopokomil kec.Silima Pungga-Pungga.Di daerah ini ditemukan Timah Hitam (Pb) dan Seng (Zn) yang diperkirakan jumlahnya sangat banyak.Potensinya sekitar 7,7 juta metric ton bijihTimah Hitam (Pb) dan Seng (Zn) yang diperkirakan bernilai triliunan rupiah. Perusahaan yang mengelolanya adalah PT Dairi Prima Mineral (DPM).
Dari data yang diperoleh, PT DPM memiliki kontrak sejak 19 Februari 1998 dan telah merampungkan explorasi serta pembangunan sarana dan prasarana sedang dilakukan sampai sekarang. Sedangkan proses exploitasinya (penggalian) masih belum dilakukan.Pembangunan sarana dan prasarana yang sedang dilakukan antara lain membangun kurang lebih 4,7 Km jalan ring road Sidikalang yang bakal dilalui dalam pengangkutan bahan tambang ke pelabuhan Kuala Tanjung serta peningkatan jalan Sidikalang – Parongil (23 Km) menjadi 6 meter dan pembuatan parit jalan.Pembuatan jalan dan ringroad ini memakan dana puluhan miliar rupiah dan pemborongnya adalah pengusaha local.Jadi bisa dibayangkan lapangan kerja yang dihasilkan dengan adanya daerah tambang ini.

Disadur dari berbagai Sumbe