Motto Adat Pakpak “Ulang Telpus Bulung” Merugikan Diri Sendiri

Banyak motto terdapat di Sumatera Utara, dengan motivasi spesifik intrinksik maupun ekstrinksik terhadap budaya masyarakatnya. Tapanuli mempunyai motto “Anakhonhi do hamoraon di ahu”, Simalungun terkenal dengan “Habonaron do bona”, Karo mempunyai motto “Sada gia manukta gellah takuak” dan Melayu Deli mempunyai motto “Setampuk sirih sejuta pesan”.

Anakhonhi do hamoraon di ahu, yang bila diterjemahkan secara langsung berarti anak merupakan harta kekayaan, menjadikan orang Tapanuli sangat gigih memperjuangkan keperluaan anak-anaknya terutama menyekolahkannya setinggi-tingginya. Akibatnya bila dilakukan penelitian tidak ada orang Tapanuli yang buta huruf, bahkan rata-rata disetiap rumah tangga dipastikan mempunyai anak yang berpendidikan Sarjana.

Habonaran do bona, yang berarti segala sesuatu pekerjaan, perlakuan, tindakan dan sebagainya dilandasi dengan kebenaran hakiki. Habonaran do bona, kebenaranlah permulaan segala sesuatu yang baik. Hal ini yang menyebabkan penduduk Simalungun yang memegang teguh motto ini selalu bertindak benar belandaskan azas yang benar pula.

Sada gia manukta gellah takuak, bila diterjemahkan langsung berarti walaupun kita hanya mempunyai satu ekor ayam tetapi harus dapat berkokok (ayam jantan). Motto ini menjadikan masyarakat Karo gigih bekerja dan menampakkan kepahlawanan, suka menolong dan rela berkorban. Meskipun jumlahnya sedikit tetapi muncul sebagai pahlawan pembangunan, membangunkan orang lain dengan motivasi bukan dengan duhul, maju bersama, menyambut hari esok dengan penuh harapan (ayam jantan berkokok dipagi hari untuk membangunkan orang yang terlelap tidur).

Bagaimana dengan motto Pakpak ?. Jujur saja motto Pakpak belum dikenal orang, mungkin masih mencari warna atau belum ada Tokoh masyarakat, Pemerintah daerah atau Pemimpin agama yang mencetuskannya dan mensosialisakannya. Penulis mencoba sebagai cibancer memancing para tokoh-tokoh budaya Pakpak, Antropolog maupun orang Pakpak yang merasa ditokohkan untuk mengeluarkan ide-idenya membuat suatu motto Pakpak yang memberikan warna Pakpak menjadi suatu ciri khas agar Pakpak lebih dikenal orang.

Motto “Ulang telpus bulung” muncul pada zaman dahulu saat ilmu pengetahuan dan teknologi belum menjamah kehidupan Pakpak. Bila diartikan secara harfiah “Daun jangan sampai terkoyak atau bocor”. Daun yang dimaksud adalah daun pisang yang dipakai sebagai alas makanan pengganti pinggan pasu (piring). Dimana pada saat itu pinggan pasu hanya diperuntukkan bagi pertaki (ulubalang) atau raja saja.

Pada saat makan menggunakan daun pisang sebagai pengganti pinggan (piring) tadi jika satu tangan dengan kelima jari menahan dua lapis daun pisang, diletakkan 5 potong ubi rebus di atasnya maka daun pisang akan koyak, tidak kuat menahan beban. Bayangkan zaman sekarang anda membeli lontong satu bungkus dengan porsi lebih, maka daun pisang pembungkusnya akan koyak dan lontong anda tumpah semua. Oleh karena itu diperlukan kedua tangan untuk menahan ke-5 potong ubi rebus tersebut agar daun pisangnya tidak koyak. Hal ini berarti kita memerlukan tangan orang lain membantu kita mengambil dan meletakkan sesuatu ke atas daun pisang yang kita pegang dengan kedua tangan kita.

Demikian pula pada saat pesta (pesta njahat maupun mende), orang hanya boleh memakan makanan yang jumlahnya, porsinya sesuai (pas) dengan daun pisang yang tersedia. Sebab bila serakah dengan porsi lebih malah akan tumpah dan tidak dapat menikmati apa-apa. Orang narahup, rakus maksudnya akan kennan uhut (sekam padi). Oleh karena itu harus ada keseimbangan antara daya tampung dengan yang ditampung. Keiklasan orang pemberi makan dan sukacita orang yang diberi makan, jangan ngut-nguten, bersungut-sungut maksudnya. Jadi semacam “take and give”. Boleh juga disebut saya tidak berarti apa-apa apabila orang lain tidak ada, saya tidak dapat hidup sendirian tanpa kehadiran orang lain. Tetapi saya tidak dapat memaksa orang lain memberi lebih kepada saya, karena daya tampung saya sendiri juga terbatas. Orang lain bukanlah dispenser yang bila dipencet akan keluar air panas atau air dingin sesuai dengan keinginan kita.

Motto ini berlaku pula dalam pelaksanaan adat Pakpak. Contoh sederhana apabila seseorang diundang menghadiri acara pesta mengadati pernikahan. Sebutlah posisinya sebagai Kula-kula/Kalimbubu/Puang atau Simemupus dari pengantin pria harus membawa manuk, bellagen mbentar dan kembal selampis berisi beras atau pinahpah dan lemmang maupun nditak tasak (Ayam, tikar putih dan sumpit ? …..apa ya bahasa Indonesianya kembal ?). Selanjutnya persinabul, perkata-kata (MC, Master of ceremony pesta) mewakili pengantin akan memberikan oles atau mandar (Ulos atau Sarung) dan sejumlah uang minimal senilai yang dibawa kula-kula tadi. Demikian pula bila posisi undangan sebagai perberru apabila membawa oles akan menerima balasannya seekor ayam lengkap dengan selampis dan tikar, lemmang, pinahpah atau nditak tergantung nilai oles yang dibawa. Jadi tercipta semacam balancing, keseimbangan antara pihak berru, kula-kula hingga ke sulang silima. Sampai disini dirasakan masih relevant dan relatife baik.

Kelemahan mulai muncul, pada saat meminang impal, calon istri. Pihak keluarga perempuan mulai hitung-hitungan. Mulai menghitung bulung, untung rugi. Berapa ya bulung (duit, kerugian) habis mulai melahirkan sang putri, membesarkannya, menyekolahkannya dan uang sogokan mencarinya pekerjaan (kalau sang putri pegawai negeri, sudah menjadi rahasia umum perlu uang sogokan agar dia diterima jadi pegawai). Bulung oda boi telpus, pihak manapun tidak mau rugi. Total perhitungan jadilah mas kawin yang harus dibayar. Bisa dalam bentuk uang, emas, mesin jahit, kerbau, sawah atau ladang yang disebut dengan tokor berru (sinamot, mahar). Tawar menawar tokor berru antara persinabul pengantin pria dan persinabul wanita biasanya berjalan alot dan bila kedua belah pihak saling bersikeras dan tidak ada yang mau mengalah perkawinan akan undur waktu, meniti hari baik bahkan ada kemungkinan batal. Anehnya suku Pakpak, mampu menerima adat suku manapun juga, baik calon pengantin pria maupun wanita. Bahkan tidak heran adat suku lain diberlakukan di daerah Pakpak walaupun kedua pengantin berasal dari suku Pakpak asli hanya karena ayah angkat salah satu pengantin dari suku lain tersebut. Hal ini dapat terjadi menghindari biaya “Ulang telpus bulung” yang relatife mahal dan pihak pengantin pria dari kalangan kurang mampu padahal kedua pengantin sudah cocok dan saling mencintai……… cek ille…ketimbang kawin lari ya ???? …. Capek deh. Maka identitas Pakpak pun hilang setahap demi setahap, baru oleh satu alasan saja belum lagi faktor-faktor yang lain. Motto “Ulang telpus bulung” pun mempengaruhi kehidupan sosial sehari-hari. Akibatnya setiap tindakan sosial yang diperbuat mengharapkan balasan yang setimpal. Jeleknya ada yang mengharapkan perbuatannya, pemberiannya akan dibayarkan kelak (tidak dermawan). Pamrih semacam ini menjadikan orang Pakpak tidak rela berkorban, sehingga ada istilah “Oda mersidahiin” Tidak saling mengunjungi dan memberikan kewajiban adat ataupun menerima hak adat. Adalah kebiasaan kita zaman dahulu hidup berdampingan, tidak bermusuhan, bukan tidak cakapan atau cikalak dan hidup rukun. Budaya “Oda mersidahiin” atau cikalak, eskete terjadi karena budaya gampang sekoh dan tembohon, tersinggung dan ngambek maksudnya. Penyebabnya macam-macam karena perbedaan tingkat sosial, kecemburuan sosial (late, teal, elat, iri, dengki), bisa juga karena pernah khilaf lupa mengundangnya pada suatu pesta, khilaf lupa memberikan sulangnya pada suatu pesta dan malah ada dendam turun temurun karena masalah baleng, perbatasan ladang atau pembagian harta warisan yang dirasakan tidak adil. Ada juga karena masalah dukung mendukung pada pemilihan raja bondar, sintua , kepala desa atau anggota dewan. Dan banyak penyebab lainnya. Masih adakah anda rasakan saat ini, sekarang, kemarin atau kelak?……hindarilah cobalah sedikit berlapang dada dan dermawan.

Motto ulang telpus bulung pun menjadi hambatan dalam pembangunan, membangun sesuatu sarana yang berasal dari swadaya masyarakat. Kerelaan memberikan dana dan tenaga pun masih berhitung-hitung bulung, karena kerelaan berkorbaan rendah. Faktor yang sudah berurat berakar ini tentu memerlukan waktu mengubahnya. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Adalah tanggung jawab kita bersama sebagai generasi penerus Pakpak, bukan hanya sebagai penerus generasi Pakpak, meneruskan darah marga Pakpak saja untuk mengembangkan sisi positif dan meminimalkan sisi negatife motto “Ulang telpus bulung”. Ini suatu tantangan siapa berani berkorban, siapa rela telpus bulungnya?. Merubah sikap budaya Pakpak yang negatife menjadi kelebihan Pakpak. Adakah tokoh Pakpak yang bersedia melakukan penelitian dan menciptakan suatu motto Pakpak yang brilian kayak saudara kita suku lain, “Anakhon hi do hamoraon di ahu, Habonaron do bona, Sada gia manukta gellah takuak atau Setampuk sirih sejuta pesan”. Alangkah bahagianya kita orang Pakpak bila motto “Ulang telpus bulung” digantikan dengan motto lain yang lebih brilian dan kita masyarakatkan di seluruh orang Pakpak sedunia. Anda puny ide ?? kami tunggu dengan sabar.

Sumber : Lembaran Budaya, Sinar Indonesia Baru edisi Minggu, 19 Januari 2003
Oleh : Drs. Viktor H Sinamo, Kepala SMA Negeri Salak, Pakpak Bharat
Ditulis kembali oleh : Ir. Paian TH Sinamo (paian_sinamo@yahoo.com)
Merberru sideban korban Ulang telpus bulung