SEKILAS DAIRI

Kabupaten Dairi adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatra Utara. Dairi memiliki luas wilayah 3.146,1 km² dan populasi 350.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Sidikalang.
Kabupaten ini kemudian dimekarkan menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dairi sebagai kabupaten induk dan Kabupaten Pakpak Bharat dengan dasar hukum Undang Undang Nomor 9 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Humbang Hasundutan yang dikelurkan pada tanggal 25 Februari 2003.

SEJARAH

Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang usianya cukup tua. Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber, pemerintahan Kabupaten Dairi telah ada sebelum masa penjajahan Belanda antara tahun 1852 sampai tahun 1942.
Sejarah berdirinya pemerintah Kabupaten Dairi ketika pada masa agresi militer I Belanda yang menguasai Sumatera Timur sehingga untuk menyelenggarakan pemerintahan serta perang melawan agresi Belanda, Residen Tapanuli ketika itu Dr Ferdinand Lumbantobing selaku Gubernur Militer Sumatera Timur dan Tapanuli, menetapkan Keresidenan Tapanuli menjadi 4 (empat) kabupaten masing-masing Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang dan Kabupaten Silindung. Berdasarkan surat Residen Tapanuli Nomor 1256 tanggal 12 September 1947 ditetapkan Paulus Manurung sebagai Bupati pertama Kabupaten Dairi yang berkedudukan di Sidikalang, terhitung mulai 1 Oktober 1947.
Berdasarkan tanggal ketetapan bupati pertama itulah yang akhirnya dasar kesepakatan antara pemerintah dan masyarakat ditetapkan sebagai “Hari Jadi Kabupaten Dairi” melalui Keputusan DPRD Kabupaten Dairi Nomor 4/K-DPRD/1997 tanggal 29 April 1977.
Pada awal berdirinya Kabupaten Dairi terbagi atas 3 kewedanan dan 6 kecamatan. Kewedanan tersebut yaitu, kewedanan Sidikalang yang dibagi atas 2 kecamatan masing-masing Kecamatan Sidikalang dan Kecamatan Sumbul. Selanjutnya kewedanan Simsim dibagi atas 2 kecamatan yaitu Kecamatan Kerajaan dan Kecamatan Salak, serta kewedanan Karo Kampung yang dibagi atas 2 kecamatan masing-masing Kecamatan Tiga Lingga dan Kecamatan Tanah Pinem.
Memasuki usianya yang ke-60 Kabupaten Dairi yang terkenal dengan “Kopi Sidikalang” hingga Desember 2005 meliputi 13 kecamatan.

KECAMATAN

Sidikalang beribukota Sidikalang
Berampu beribukota
Lae Parira beribukota Lae Parira
Gunung Sitember beribukota
Parbuluan beribukota
Pegagan Hilir beribukota
Siempat Nempu beribukota
Siempat Nempu Hilir beribukota
Siempat Nempu Hulu beribukota
Silima Pungga-Pungga beribukota
Sumbul beribukota
Tanah Pinem beribukota
Tigalingga beribukota

POTENSI DAIRI

Kabupaten Dairi memiliki potensi alam yang sangat kaya, seperti keindahan alam daerahnya, hasil pertanian yang beraneka ragam dan melimpah, serta beberapa daerah memiliki kandungan bahan tambang yang sangat berharga.
Sesuai dengan keadaan alam dan topografinya sektor pertanian berperan dominan dalam mendukung perekonomian masyarakat.

PERTANIAN
Secara umum,masyarakat Dairi merupakan petani. Hal ini didukung oleh keadaan tanah yang sangat subur.Hasil pertanian yang sangat terkenal dari Sidikalang adalah kopi.Hampir semua orang di Indonesia dan di Sumatera Utara pada khususnya sudah mengenal Bubuk Kopi Sidikalang.Kopi Sidikalang terkenal karena rasanya yang khas yang benar-benar berasa “kopi” ketimbang kopi-kopi pabrik yang lebih berasa “manis”.
Masih banyak hasil pertanian lain yang dihasilkan di daerah ini. Seperti padi , gambir “kemiri” ,palawija, buah-buahan, dan lainnya. Tetapi yang paling tenar tetaplah kopi, Kopi Sidikalang.

OBJEK WISATA

Untuk objek wisata, ada sangat banyak di Dairi.Terutama objek wisata alam.Berikut adalah objek wisata alam di Dairi.
Taman Wisata Iman Letter S Kawasan Sidikalang
Taman Wisata Iman berada di atas Perbukitan Sitinjo, dan merupakan satu-satunya tempat wisata di Indonesia yang memadukan unsur religius dan keindahan alam. Di sana terdapat lima tempat ibadah berdasarkan agama yang diakui di Indonesia,
dan di area seluas 13 hektare tersebut juga ada miniatur peninggalan sejarah masing-masing agama yang layak dikunjungi. Di Taman Wisata Iman juga terdapat wisata sungai dan alam serta penginapan bagi pengunjung yang ingin bermalam disana. Wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba bisa melanjutkan perjalanannya berwisata di Taman Wisata Iman karena jaraknya hanya satu jam perjalanan
Taman Wisata Iman (TWI) di Letter S merupakan cerminan kerukuran dan ketaatan masyarakat Dairi memeluk agamanya, menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi wisatawan untuk berkunjung ke kawasan wisata ini. Jika dibandingkan dengan Kabupaten lain di Sumatera Utara, maka hanya di Kabupaten Dairi diperoleh pendekatan cerminan seperti ini.Untuk sekarang ini, pemerintah Kabupaten Dairi sedang gencar-gencarnya mengadakan perbaikan di lokasi ini.Diharapkan nantinya TWI akan menjadi cerminan Dairi yang melambangkan kerukunan umat beragama di Dairi. Sepertinya TWI menjadi prospek utama yang dikembangkan oleh pemerintah Dairi. Promosi terhadap TWI juga sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Pemda setempat.

Lae Pondom Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Lae Pondom merupakan tempat yang ideal untuk memandang Danau Toba yang persis terletak di atas desa Silalahi. Hutan, kupu-kupu, Imbo (sebangsa siamang berwarna hitam dengan suara nyaring dan khas) dapat dinikmati oleh wisatawan.
Silalahi Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Desa Silalahi persis berada ditepi Danau Toba dan wisatawan dapat menikmati Danau Toba pada lokasi ini antara lain : memancing, olahraga air, mandi-mandi/ berenang, berperahu, berselancar. Secara budaya desa ini diyakini sebagai asal muasal Marga Silalahi. Uniknya lagi bahwa pada bagian inilah merupakan perairan terdalam dari Danau Toba.
Danau Toba Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Tidak jauh dari lokasi Lae Pondom wisatawan dapat mengunjungi Dolok Simaddar, dimana dari lokasi ini Danau Toba terlihat lebih jelas dan termasuk hutan yang disebelahnya, suatu pemandangan panorama yang sangat indah.
PLTA Lau Renun Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Bukit Simandar Kawasan Danau Toba Kabupaten Dairi
Tidak jauh dari lokasi Lae Pondom wisatawan dapat mengunjungi Dolok Simaddar, dimana dari lokasi ini Danau Toba terlihat lebih jelas dan termasuk hutan yang disebelahnya, suatu pemandangan panorama yang sangat indah.
Ada beberapa “cerita” menarik yang kejadiannya di perladangan masyarakat Desa Silalahi persisnya dikaki bukit Simaddar bahwa dimalam hari dari arah hutan terlihat barisan obor sangat jelas dari Dolok Simaddar, yang diyakini sebagi suatu kegiatan “mahluk halus”. Disamping itu ada juga “cerita/ pengakuan masyarakat” tentang penomena alam yang tidak biasa terjadi berupa hujan pasir melanda Desa Silalahi selama 3 hari setiap tahunnya, tetapi sayangnya tim investigasi belum mampu menguak waktu terjadinya penomena alam tersebut.
Selain daripada itu masih terdapat “ cerita “ tentang kisah perpindahan/ terangkatnya air danau toba dalam jumlah besar kearah hutan di kaki bukit Simaddar yang terjadi setiap tahun, dengan waktu yang belum dapat diidentifikasi tetapi terjadi setiap tahunnya, menurut pengakuan responden.
Lae Pandaroh Kawasan Sidikalang
Danau Sicike-cike Kawasan Sidikalang
Lokasi objek ekowisata Danau Sicike-cike berada pada wilayah Desa Bangun, Kecamatan Parbuluan, dengan jarak 18 km dari Sidikalang/ Ibukota Kabupaten, merupakan lokasi wisata dengan panorama keindahan hutan yang asri dan memiliki beraneka tumbuhan anggrek serta fauna berupa bebek hutan yang abadi hidup disana. Tanaman Anggrek yang banyak dijumpai disekitar danau Sicike-cike sangat potensial menjadi maskot objek wisata di kawasan ini. Namun sebagian diantaranya masih harus ditempuh dengan jalan kaki dan ini berpeluang menarik bagi wisatawan lintas ala hutan.
“Kisah/ legenda” terjadinya Danau Sicike-cike. (menurut penuturan Bangun/ responden). Jauh sebelum kedatangan Belanda menjajah wilayah ini, kawasan danau sicike-cike telah dihuni oleh 7 marga/ Sipitu marga dari suku Pak-pak : Bintang, Angkat, Capah, Kudadiri, Ujung, Sinamo dan Bako. Terjadinya Danau Sicike-cike diawali dari kemurkaan salah seorang ayah yang berasal dari ketujuh marga kepada anaknya, karena menyantap makanan yang seharusnya dia bawa dari rumah untuk disampaikan kepada orangtuanya yang bekerja di sawah/ perladangan. Sang ayah menendang tempat makanan yang telah kosong tersebut dan mengumpat sang anak dengan murkanya. Tidak lama berselang setelah kejadian itu secara tiba-tiba datang air bah dan menenggelamkan daerah persawahan tersebut termasuk penduduknya yang tidak sempat menyelematkan diri. Genangan air semakin dalam dan luas yang akhirnya menjadi Danau Sicike-cike.

Puncak Sidiangkat Kawasan Sidikalang
KM 11 Silumboya Kawasan Sidikalang
Lokasi objek ekowisata Panorama Indah disekitar Desa Silumboya, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, dengan jarak 11 km dari Sidikalang, memiliki keunikan utama adalah berupa pemandangan alam yang indah. Wisatawan dapat melakukan camping dan wisata geologi/ vulkanik.
Kupu-kupu di lokasi Puncak nan Tampuk Mas, merupakan suatu potensi yang besar bagi upaya menarik kunjungan wisatawan ke wilayah ini. Demikian pula halnya dengan tanaman anggrek di objek lokasi ekowisata Danau Sicike-cike.
Liang Pamah Kawasan Tanah Pinem
Lokasi objek ekowisata Liang Pamah merupakan gua yang mengandung nilai sejarah berkaitan dengan perjuangan mayarakat Dairi melawan penjajahan Belanda. Konon dalam “cerita” masyarakat bahwa pada masa perjuangan mengusir penjajah Belanda, ada kalanya penduduk harus mengungsi. Salah satu lokasi mengungsi adalah gua liang pamah tersebut dengan kemapuan unik berupa daya tampungnya yang mampu menampung pengungsi seberapapun jumlahnya.
Panorama Alam Kepawa Kawasan Tanah Pinem
Lokasi objek ekowisata Danau Kempawa, termasuk wilayah Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem, dengan jarak 48 km dari Sidikalang. Daya tarik utama adalah fauna berupa ikan emas, nila dan lele yang oleh masyarakat setempat dinilai memiliki citrarasa yang enak. Ikutan daya tarik lainnya bagi wisatawan lainnya adalah kegiatan masyarakat dalam budidaya tanaman tembakau dan vanili. Karenanya objek ini berpeluang untuk dikembangkan menjadi objek agrowisata, sekaligus sebagai objek ekowisata dengan fokus memperbaiki hutan dan sungai yang ada di sekitar objek tersebut. Namun sayangnya belum tersedia fasilitas pendukung untuk kepariwisataan, seperti ketidak ketersediaan restaurant dan penginapan bahkan saung sebagai tempat menikmati alam serta terbatasnya sarana komunikasi dan angkutan.
Danau Paya Kuda Kawasan Tanam Pinem

Panorama Sinar Pagi Kawasan Tanah Pinem
Liang Kompor Kawasan Tinah Pinem
Tank Peninggalan Penjajah Belanda Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek wisata Tank Peninggalan Penjajahan Belanda, termasuk desa Tiga Lingga Kecamatan Tiga Lingga, merupakan lokasi yang baik untuk menghayati nilai perjuangan masyarakat Dairi mengusir penjajah Belanda.
Gua Kendet Dan Patung Bersejarah Di Kawasan Tiga Lingga
Gua kendet liang memiliki patung batu bersejarah dapat menjadi daya pikat wisatawan bila mampu diidentifikasi dengan kaidah-kaidah keilmuan kepurbakalaan. Bahkan pada akhirnya dapat menjadi maskot wisata bagai kawasan ekowisata Tanah Pinem.

Air Terjun Lae Belulus Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek ekowisata Air Terjun Lae Belulus, termasuk wilayah Desa Juma Gerat, Kecamatan Tiga Lingga, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Keunikan utama adalah fauna berupa ikan emas, nila dan lele. Ikutan keunikan yang dapat dinikmati oleh wisatawan adalah tanaman tembakau dan vanili. Dapat dicapai dengan kenderaan roda empat minibus. Belum tersedia fasilitas pendukung untuk parawisata, seperti ketidak ketersediaan restaurant dan penginapan serta lainnya.
Jejak Tapak Kaki Raksasa Di Simuhur Tiga Lingga
Objek wisata Simuhur, memiliki daya tarik wisata berupa jejak tapak kaki manusia raksasa yang diyakini pernah tinggal dan hidup diwilayah ini. Objek ini akan menjadi sangat menarik jika dilakukan penelitian sejarah perihal jejak tapak kaki raksasa tersebut.

Gua Lau Iput Di Kawasan Tiga Lingga
Lokasi objek ekowisata Gua Lau Ipuh, termasuk wilayah Desa Lau Ipuh, Kecamatan Tiga Lingga, dengan jarak 51 km dari Sidikalang. Keunikan utama adalah fauna berupa burung layang-layang/ walet. Ikutan keunikan yang dapat dinikmati sekaligus dapat menjdai menakutkan bagi wisatawan adalah ular kobra yang berekosistem di wilayah ini. Faktor yang dapat menjadi penghambat pengembangan objek ini adalah sarana perhubungan. Jalan memang cukup baik tetapi jaraknya cukup jauh. Disamping jalan menuju gua masih alami, fasilitas pendukung wiasatapun terasa sangat minim. Dapat dikembangkan menjadi objek penelitian fauna seperti ular dan burung.
Air Terjun Lae Bas Bas Di Kawasan Tiga Lingga
Lae Hitam Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Lae Hitam, termasuk wilayah Desa Lae Hitam, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 83 km dari Sidikalang. Daya tarik utamanya berupa pesona alam yang indah, dengan keunikan ikutan adalah sungainya yang berwarna kehitaman, mencerminkan suatu misteri.
Air Terjun Lae Maski Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Air Terjun Lae Baski, termasuk wilayah Desa Pardomuan, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Keindahan utama berupa pesona alam dan air terjun yang bertingkat-tingkat.
Lae Markelang Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek wisata Panorama Indah, termasuk wilayah Desa Lae Markelang, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dengan jarak 54 km dari Sidikalang. Daya tarik objek wisata adalah pesona alam yang sangat indah dengan hijaunya hutan dan udara sejuknya. Merupakan lokasi yang ideal untuk melakukan kegiatan camping dan wisata alam geologi. Keindahan panorama ini sangat kuat pengaruh dari KEL.
Mata Air Bersjarah Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek ekowisata Mata Air Bersjarah, termasuk wilayah Desa Bonian, Kecamatan Silima Pungga-pungga, dengan jarak 45 km dari Sidikalang. Lokasi yang baik untuk bercamping dan sekalgus menikmati pesona budaya. Namun demikian wisatawan yang datang hanya masyarakat umum dari dalam Kabupaten Dairi sendiri. Menurut penuturan masyarakat setempat bahwa mata air tersebut muncul setelah Raja Sisingamaraja menancapkan tongkatnya pada tempat ini yang serta merta muncul mata air. Masyarakat meyakini bahwa air dari mata air bersejarah ini dapat menjadi penawar berbagai macam penyakit dan penawar perasaan yang sedang gundah.
Mejan Marga Sibero Di Kawasan Silima Pungga-Pungga
Lokasi objek ekowisata Mejan Marga Cibro, termasuk wilayah Desa Tuntung Batu, Kecamatan Silima Pungga-pungga, dengan jarak 43 km dari Sidikalang. Keunikan utama yang dapat dinikmati oleh wisatawan adalah budaya, berupa keberadaan Batu Perjanjian Marga Cibro dan Batu Tunggung Ni Kuta. Kisah tentang Batu Tunggung Ni Kuta/ Pertahanan Desa terletak di bagian gerbang desa Tuntung Batu (dahulu)1 akan memberikan tanda dengan bunyi berdesing apabila ada sesuatu yang mengancam penduduk desa, termasuk kemungkinan serangan penyakit menular. Lokasi Desa Tuntung Batu yang sekarang gerada sekitar 400 m kearah utara dari lokasi lama. Sementara itu kisah tentang Batu Perjanjian Marga Cibro merupakan sumber berkah bagi Marga Cibro, sehingga Marga Cibro dahulunya mengelilingi batu tersebut untuk musyawarah dan mufakat dalam berbagai urusan kehidupan sosial budaya. Sarana jalan cukup baik. Wisatawan dapat melakukan kegiatan kemah/ camping di lokasi objek dengan pemandangan yang indah.
Sebagai tempat kunjungan yang baik bagi masyarakat bermarga cibro/ sibero atau yang memiliki ikatan darah dengan marga cibro/ sibero. Menurut penuturan responden bahwa desa Tuntung Batu merupakan desa tertua dari semua desa yang ada di Kecamatan Silima Pungga-pungga dan sekaligus merupakan tempat asal Marga Cibro yang menjadi marga Tarigan Sibero di masyarakat suku Karo. Objek wisata ini sangat potensial dikembangkan menjadi objek wisata budaya, yang tentunya perlu didahului dengan penelitian para ahli sejarah.
Disamping itu pada lokasi ini juga masih ditemui pohon durian yang berumur lebih dari 200 tahun, dan merupakan induk banyak pohon durian yang telah berkembang di sekitar desa dan ke desa-desa tetangga lainnya. Sebagai salah satu contoh adalah Kebun nanas yang terpadu dengan kebun durian di Sempung Lumban Sihite kurang lebih 20 km dari Sidikalang, yang telah menjadi lokasi kunjungan wisata untuk menikmati panorama persawahan dengan latar belakang Kawasan Ekosistem Leuser sambil menikmati buah Nanas (tersedia setiap saat) dan buah Durian pada musimnya.
Menurut pemilik kebun bahwa bibit Tanaman Durian tersebut, berasal dari Desa Parongil sekitar 10 tahun yang lalu dan jika Desa Tungtung Batu merupakan desa tertua dan pohon durian yang terdapat disana sebagai durian yang sudah sangat tua juga maka tidak tertutup kemungkinan bahwa Durian di Sempung Lumban Sihite nenek moyangnya adalah dari pohon durian di Desa Tungtung Batu juga

DAERAH PERTAMBANGAN

Di Dairi telah ditemukan satu daerah pertambangan yang terletak di Dusun Sopokomil kec.Silima Pungga-Pungga.Di daerah ini ditemukan Timah Hitam (Pb) dan Seng (Zn) yang diperkirakan jumlahnya sangat banyak.Potensinya sekitar 7,7 juta metric ton bijihTimah Hitam (Pb) dan Seng (Zn) yang diperkirakan bernilai triliunan rupiah. Perusahaan yang mengelolanya adalah PT Dairi Prima Mineral (DPM).
Dari data yang diperoleh, PT DPM memiliki kontrak sejak 19 Februari 1998 dan telah merampungkan explorasi serta pembangunan sarana dan prasarana sedang dilakukan sampai sekarang. Sedangkan proses exploitasinya (penggalian) masih belum dilakukan.Pembangunan sarana dan prasarana yang sedang dilakukan antara lain membangun kurang lebih 4,7 Km jalan ring road Sidikalang yang bakal dilalui dalam pengangkutan bahan tambang ke pelabuhan Kuala Tanjung serta peningkatan jalan Sidikalang – Parongil (23 Km) menjadi 6 meter dan pembuatan parit jalan.Pembuatan jalan dan ringroad ini memakan dana puluhan miliar rupiah dan pemborongnya adalah pengusaha local.Jadi bisa dibayangkan lapangan kerja yang dihasilkan dengan adanya daerah tambang ini.

Disadur dari berbagai Sumbe