**NJUAH – NJUAH MO BANTA KARINA **

Sabtu, 14 Februari 2009
Jejak Hindu-Buddha dalam kepercayaan dan tradisi orang Pakpak
Sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen di tanah Pakpak, masyarakatnya meyakini bahwa alam raya ini diatur oleh Tritunggal Daya Adikodrati yang terdiri dari Batara
Guru, Tunggul Ni Kuta, dan Boraspati Ni Tanoh (Siahaan dkk.,1977/1978:62). Nama-nama itu antara lain terwujud lewat mantra ketika diadakan upacara menuntung tulan (pembakaran tulang-tulang leluhur). Sebelum api disulut oleh salah seorang Kula-kula/Puang dia mengucapkan kata-kata sebagai berikut (Berutu, 2007:32):
“O…pung…! Ko Batara Guru, Beraspati ni tanah, Tunggul ni kuta, … .”
Nama Boraspati dan Batara Guru jelas merupakan adopsi dari bahasa Sanskerta yang disesuaikan dengan pelafalan setempat. Kata Boraspati merupakan adopsi dari kata Wrhaspati yang berarti nama/sebutan purohita (utama/pertama) bagi para dewa. Jadi kata ini merujuk pada penyebutan bagi dewa tertinggi atau yang dianggap utama/penting yang dalam konteks ini (boraspati ni tanoh) dapat diartikan sebagai dewa utama yang berkuasa di tanah/bumi.
Penyebutan Batara
Guru dalam mantra sebelum api dinyalakan dalam upacara menuntung tulan jelas merupakan adopsi dari kepercayaan Hindu yang berkenaan dengan salah satu perwujudan dari Dewa Siwa yakni sebagai Agastya (Batara Guru). Menurut Krom (1920:92 dalam Poerbatjaraka,1992:110) wujud Siwa yang paling populer di Nusantara adalah wujud yang yang memakai nama Bhatara Guru (Guru Dewata). Sosok utama dengan nama ini juga banyak ditemukan di tempat-tempat lain di Nusantara. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa tokoh ini adalah dewa asli Indonesia yang konsepnya kemudian tercampur seiring dengan masuknya agama Hindu melalui perwujudan Siwa sebagai Mahayogi. Pendapat Krom tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Kern (1917:21 dalam Poerbatjaraka 1992:110). Menurut Kern bukti nyata tentang popularitas agama Hindu Siwa adalah dengan tersebarnya nama Bhatara Guru sebagai dewa utama di Nusantara. Demikian halnya dengan Wilken (1912:244 dalam Poerbatjaraka 1992:110) yang menyatakan bahwa Soripada dan Batara Guru adalah dewa-dewa pribumi yang semula mempunyai nama pribumi asli yang kemudian berubah dengan menggunakan bahasa Sanskerta.
Kata adopsi lain yang juga tampil dalam mantra orang-orang Pakpak adalah dalam mantra menolak mimpi buruk (Siahaan dkk.,1977/1978:150):
Hung, pagari mo kita
Da hompungku
Hompung ni pangir …
Kata Hung dalam mantra penolak mimpi buruk pada tradisi Pakpak di atas adalah pelafalan lain dari kata Hum yang sering digunakan dalam mantra-mantra Hindu maupun Buddha. Dalam kitab suci Hindu yakni Weda, kata Hum adalah mantra bagi Agni, sang dewa api, sehingga mantra ini digunakan saat dilakukan upacara persembahan kepada api suci. Selain itu juga digunakan untuk memanggil atau membangkitkan api sehingga nyalanya lebih kuat. Hum juga merupakan representasi dari jiwa dalam diri mahluk, sekaligus wujud keberadaan Dewa di dunia. Melalui pelafalannya manusia berharap sifat-sifat kedewaan merasuk ke dirinya sekaligus memberikan kesadaran jiwa akan keberadaanNya. Di samping sebagai mantra yang ditujukan pada Agni sang dewa api, Hum juga merupakan mantra bagi Dewa Siwa serta Chandika (perwujudan lain dari Kali sang dewi maut). Pelafalannya bertujuan untuk menghancurkan hal-hal negatif sekaligus menciptakan kekuatan dan kemauan yang besar. Sedangkan dalam agama Buddha Hum merupakan salah satu kata dalam mantra bagi Boddhisatva Avalokitesvara yang teksnya sebagai berikut: Om Mani Padme Hum. Kata ini juga dipakai bagi dewa lainnya dalam Buddhisme yakni bagi Jambala Putih yang teksnya sebagai berikut: Om Padma Corda Arya Jambhala Setaya Hum Phet.
Mantra-mantra sebagai salah satu wujud budaya yang intangible dalam kebudayaan Pakpak biasanya dihadirkan saat upacara-upacara adat. Masyarakat Pakpak pada umumnya mengenal dua bentuk kerja (horja dalam bahasa Batak Toba atau upacara/ritus dalam bahasa Indonesia) yakni, kerja baik dan kerja njahat. Kerja baik adalah segala jenis upacara yang berkaitan dengan rasa sukacita atau gembira seperti, keberhasilan panen, pernikahan, dan kelahiran anak. Sebaliknya Kerja Njahat adalah segala jenis upacara yang berkaitan dengan rasa dukacita atau sedih seperti kematian (Berutu,2007:8).
Hal-hal yang berhubungan dengan duka cita, kematian, mangokal tulan (membongkar tulang-belulang dari kuburan dan menempatkannya di kubur sekunder), dikategorikan sebagai kerja njahat. Upacara kematian dapat dibagi menjadi 4 yakni (Siahaan dkk.,1977/1978:92–94):
1. Mati
Bayi
Anak yang baru lahir yang belum bergigi jika meninggal dikebumikan dekat rumah tanpa diketahui oleh orang lain, karena takut diambil orang lain, dijadikan guna-gunaan.
1. Mati
Dewasa
Orang yang meninggal dalam usia muda (dewasa) dikuburkan dimana saja dan termasuk mate
ntalpok (mati belum berketurunan)
1. Mati
Ntua
Seorang yang meninggal dan telah berkeluarga dikebumikan di kuburan umum.
2. Mati
Cayur
Tua
Bagi orang yang meninggal tapi sudah mempunyai cucu, biasanya diadakan kerja
njahat, sewaktu mayatnya masih di rumah. Pembiayaan umumnya ditanggung oleh keluarga/ahli waris yang meninggal itu sendiri karena almarhum enggo
mencari (hasil pencarian/kerja mendiang selama hidupnya). Jadi biaya diambil dari harta yang ditinggalkan oleh mendiang.
Salah satu bagian penting dalam ritus mati cayur tua adalah Menuntung Tulan (upacara pembakaran tulang jenazah). Upacara ini disebut juga Penahangken (meringankan), sebab tujuan dilaksanakannya adalah untuk meringankan beban roh mendiang (Berutu, 2007:30).
Upacara ini dilaksanakan bila keluarga mendiang mendapat mimpi (nipi) yang seolah menggambarkan mendiang di alam kuburnya merasakan beban yang berat, sesak, atau sempit. Upacara ini harus dilaksanakan, bila tidak maka jiwa/roh mendiang akan mengakibatkan sakit kepala pada keturunannya (Berutu,2007:30).
Peralatan yang dibutuhkan dalam upacara ini antara lain kayu bakar, batang pohon pisang (sitabar) yang dibentuk menyerupai manusia serta diberi pakaian (persilihi), kain putih pembungkus tulang-tulang mendiang, sumpit/kembal wadah bagi tulang yang telah dibungkus, dan sejumlah hewan kurban. Setelah segala persiapan selesai, maka pihak kerabat (Kula-kula, Berru, dan Sinina) berangkat ke pekuburan. Biasanya dilakukan pada waktu pagi hari, agar roh/jiwa bangkit sebagaimana matahari terbit, juga agar sanak kerabatnya nasibnya menjadi lebih baik di kemudian hari (Berutu,2007:31).
Setelah api padam, secara hati-hati keluarga mengambil abu dan sisa-sisa tulang yang telah dibakar. Abu dan sisa-sia tulang itu kemudian dibungkus dengan kain putih lalu dibawa ke tempat pertulanen (lesung batu). Namun, ada kalanya abu dan sisa-sisa tulang tersebut dibawa dan digantung di rumah sukut (Berutu,2007:32).
Upacara sejenis juga dilakukan oleh masyarakat Karo setidaknya hingga awal abad ke-20 yang lalu. Jenis upacara ini hingga kini masih dilakukan oleh masyarakat Bali, yang disebut sebagai ngaben. Beberapa unsur yang mirip dengan upacara pembakaran jenazah di Bali (Ngaben) dengan upacara pembakaran tulang-tulang jenazah di Pakpak (Menuntung Tulan) selain proses pembakarannya sendiri adalah pembuatan boneka manusia dari batang pisang yang disebut sebagai persilihi. Di Bali boneka/patung yang melambangkan sosok mendiang yang diaben disebut sebagai pratima.
Selain dalam upacara adat, pengaruh Hindu-Buddha (India) juga hadir dalam sistem waktunya. Sebelum kedatangan pengaruh Islam dan Kristen sistem kala yang dikenal oleh masyarakat Pakpak adalah sebagai berikut. Berikut adalah nama-nama hari dalam 1 bulan (Siahaan dkk.,1977/1978:68):
1. Antia 16. Suma Teppik
2. Suma 17. Anggara Kolom
3. Anggara 18. Budhaha Kolom
4. Budhaha/Muda 19. Beraspati Kolom
5. Beraspati 20. Cukerra Genep Duapuluh
6. Cukerra 21. Belah Turun
7. Belah
Naik 22. Adintia Nangga
8. Sumasibah 23. Sumanti Mante
9. Anggara
Sipuluh 24. Anggara Bulan Mate
10. Budhaha
Mangadep 25. Budha Selpu
11. Antia
Naik 26. Beraspatigok
12. Beraspati Tangkep 27. Cukerra Duduk
13. Cukerra Purnama 28. Samisara Mate Bulan
14. Belah Purnama 29. Dalan Bulan
15. Tula 30. Kurung
Bandingkan penyebutan nama 7 hari pertama dalam 1 bulan pada tradisi Pakpak di atas dengan penyebutan nama hari dalam siklus 7 hari (saptawara) pada prasasti-prasasti Jawa Kuna yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India (Hindu-Buddha) sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
No Indonesia Pakpak Jawa Kuna
1 Ahad/Minggu Antia Aditya
2 Senin Suma Soma
3 Selasa Anggara Anggara
4 Rabu Budhaha/Muda Buddha
5 Kamis Beraspati Wrhaspati
6 Jumat Cukerra Çukra
7 Sabtu Belah
Naik Çanaiçcara
Sumber Pakpak: Siahaan dkk.,1977/1978:68; Jawa Kuna: Zoetmulder,1985:245
Berbeda dibandingkan nama-nama hari dalam tradisi Pakpak yang dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha, penyebutan nama-nama bulan mereka lebih bersifat pribumi:
Bulan Pakpak Jawa (tani) Jawa Kuna Sanskerta Toba Karo
1 Pekesada Kasa Cetra Caitra Sitora Citera
2 Pekedua Karwa Weçakha Vaiçakha Sisaha Sisaka
3 Peketellu Katlu Jyestha Jestha Sibista Sidista
4 Pekeempat Kapat Asādha Asādha Sisanti Sitama
5 Pekelima Kalima Srāwana Srāvana Sisorbaba Siresba
6 Pekeenam Kanem Bhādra(-pada/wada) Bhādra(-pada) Sibadora Sibadera
7 Pekepitu Kapitu Asuji/ Aswayuja Asvina/ Asvayuja Sisudija Sisudi
8 Pekewaluh Kawwalu Kārttika Kārttika Siaji mortiha/mertika Sisakadi
9 Pekesiwah Kasanga Margasirsa Mārgasirsa/ Agrahāyana Sianggara Aji Simerga
10 Pekesipuluh Kasapuluh Posya Pausa Sipusija Sipusija
11 Pekesibellas Hapit (lemah) Magha Māgha sipalaguna Siguwa
12 Pekeduabellas Hapit (kayu) Phalguna Phālguna Siraja urip Sikurung lamadu
Sumber Pakpak: Siahaan dkk.,1977/1978:68; Jawa Kuna: Zoetmulder,1985:245; Toba & Karo: Voorhoeve,1972:495
Sebagaimana tampak pada tabel di atas, nama-nama bulan dalam tradisi Pakpak jelas merupakan tradisi setempat yang didasarkan pada perhitungan kaum tani sebagaimana juga dikenal di Jawa hingga kini. Bedanya, di Jawa dahulu juga dikenal nama-nama bulan yang merupakan adopsi dari bahasa Sanskerta, sebagaimana puak-puak lain di sekitar Pakpak seperti Toba dan Karo pernah mengenalnya.
Data lain yang juga dapat dijadikan fakta adanya pengaruh India (Hindu-Buddha) dalam kebudayaan Pakpak adalah pada wujud budaya yang tangible, antara lain dalam wujud patung.
Di beberapa daerah di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat hingga kini masih dapat dijumpai rumah-rumah tradisional Pakpak. Salah satu bentuk rumah tradisional mereka dikenal sebagai rumah jojong. Rumah jojong berarti rumah yang memiliki menara, dibentuk dari 2 kata, yakni rumah dan jojong yang berarti menara. Jojong ditempatkan di tengah-tengah bubungan atap yang melengkung (denggal). Hanya raja dan keluarganya yang menempati rumah jenis ini (Siahaan dkk.,1977/1978:121). Salah satu hal menarik dari rumah jojong adalah keberadaan bentuk kepala manusia di bagian atas pintu masuk yang dalam istilah seni hias Toba disebut sebagai jenggar.
Jenggar yang terdapat di rumah jojong milik keluarga Raja Johan Berutu di Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitelu Tali Urang Julu ini berbentuk kepala manusia bermahkota dengan hiasan menyerupai sulur-suluran di sisi kiri dan kanannya. Pengamatan lebih lanjut terhadap jenggar pada rumah tradisional Pakpak ini menunjukkan adanya kemiripan dengan bagian kepala arca perunggu Wisnu berbahan perunggu dari Tanjore, negara bagian Tamil Nadu, India; serta bagian kepala arca perunggu Siwa Nataraja juga dari Tanjore, negara bagian Tamil Nadu, India. Bagian dari jenggar yang mirip dengan arca Wisnu dari Tanjore adalah bentuk mahkotanya yang dalam ikonografi disebut sebagai kirita-mukuta; sedangkan bagian dari jenggar yang mirip dengan arca Siwa Nataraja adalah bentuk yang menyerupai sulur-suluran di sisi kiri dan kanan jenggar yang mirip dengan bagian rambut arca Siwa Nataraja yang digambarkan terurai di sisi kiri dan kanan kepalanya. Kedua arca pembanding dari Tanjore tersebut diperkirakan dibuat pada abad ke-11 M, masa kekuasaan Dinasti Chola di India selatan.
Arca-arca berlanggam Chola ternyata ditemukan juga di daerah lain di Sumatera Utara, antara lain adalah arca batu Buddha yang ditemukan di situs Kota Cina, Medan; arca batu Wisnu dan Lakshmi juga dari situs Kota Cina, Medan; dan arca perunggu Lokanatha dari Gunung Tua, Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Berdasarkan contoh-contoh pembanding itu, tentunya bentuk jenggar dari rumah jojong di Pakpak Bharat itu mengambil prototipenya dari arca-arca berlanggam Chola di atas.
Wujud tri matra lain yang juga merupakan hasil adopsi dari India adalah patung angsa yang banyak ditemukan di kompleks-kompleks mejan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pakpak Bharat. Salah satu di antaranya adalah patung angsa yang terdapat di kompleks mejan Bancin di Desa Penanggalan Binanga Boang, tepatnya 55 m arah barat dari Sungai Ordi yang secara astronomis berada pada 02° 31′ 29,5” LU dan 098° 19′ 55” BT. Patung keempat berbentuk angsa, dengan panjang: 30 cm, lebar: 25 cm, tinggi: 53 cm. Patung ini digambarkan dalam posisi berdiri pada suatu batur, kedua sayap terkatup rapat pada badannya. Bagian leher hingga kepala telah hilang. Patung ini berfungsi sebagai tutup satu batu pertulanen (wadah abu/sisa-sisa jenazah) berbentuk silinder yang berada tepat di bawahnya.
Angsa bukanlah binatang endemik di Kepulauan Nusantara, populasinya yang asli tersebar di daerah subtropis bagian utara dan selatan. Spesies angsa yang ditemukan di bumi bagian utara mempunyai bulu menyeluruh berwarna putih, kontras dengan spesies angsa di bumi bagian selatan yang memiliki bulu berwarna hitam dan putih. Binatang ini secara zoologi termasuk dalam filum Chordata, kelas Aves, ordo Anseriformes, dan familia Anatidae yang terdiri dari 6 spesies yakni: Cygnus olor, daerah sebarannya di Eurasia; Cygnus atratus (angsa hitam), daerah sebarannya di Australia; Cygnus melancoryphus, daerah sebarannya di Amerika Selatan; Cygnus cygnus, daerah sebarannya di sub-artik Eropa dan Asia; Cygnus buccinator, daerah sebarannya di Amerika Utara; dan Cygnus columbianus, yang daerah sebarannya di Eropa dan Amerika Utara. Dari keenam spesies angsa tersebut dua di antaranya yakni Cygnus olor dan Cygnus cygnus hidup di benua Asia, namun tidak ada di Asia Tenggara daratan maupun kepulauan. Hal ini berarti angsa diperkenalkan atau dibawa ke Kepulauan Nusantara seiring terjadinya kontak budaya antara penduduk pribumi Nusantara dengan para pendatang dari daratan Asia seperti Cina atau India.
Dikenalnya angsa oleh orang-orang Pakpak di masa lalu sebagaimana terwujud dalam bentuk patung adalah hasil kontak mereka dengan para pendatang dari India yang beragama Hindu atau Buddha. Dalam ikonografi Hindu angsa adalah wahana (tunggangan) dari salah satu Trimurti yakni Brahma, Sang Pencipta alam semesta sedangkan dalam ikonografi Buddha angsa adalah tunggangan Saraswati, Sang Dewi ilmu pengetahuan. Keberadaan patung angsa sebagai tutup bagi wadah abu dan sisa-sisa tulang jenazah (batu pertulanen) dapat dikaitkan dengan konsep dalam Hindu bahwa Brahma adalah Sang Pencipta. Angsa sebagai wahana Brahma dapat dianggap sebagai simbol pelepasan mendiang -yang sisa-sisa jasadnya tersimpan di batu pertulanen- menuju Sang Pencipta.